Diskusi Pascasarjana UNHI Bahas Penanggalan Bali dan Mesoamerika
12 April

Diskusi Pascasarjana UNHI Bahas Penanggalan Bali dan Mesoamerika

PASCASARJANA Universitas Hindu Indonesia Denpasar kembali menggelar diskusi bulanan di aula lantai dua Rabu (11/4) kemarin. Pada kali ini UNHI bekerja sama dengan International Foundation for Dharma Nature Time dan mengangkat topik yang cukup menarik yakni Kehidupan Upacara berdasarkan Sistem Penanggalan Tradisional Bali Hindu dan Mesoamerika (Ceremonial Life according to the Bali Hindu and the Mesoamerican Traditional Calendar Systems).

Dua narasumber dihadirkan yakni dari pihak UNHI Drs. Ida Kade Suarioka, M.Si dan dari Guadalajara, Meksiko pendiri Hueitlahtolli Interdisciplinary Anthropological Research Institute Patricia Elizabeth Torres, Ph.D. Kegiatan tersebut dimoderatori President Dharma Nature Time Dr. Diane Butler.

Dalam kesempatan menyampaikan materi, Ida Kade Suarioka menjelaskan tentang sistem penanggalan tradisional Bali. Menurut Suarioka, sistem penanggalan Bali tersebut menjadi landasan petani Bali untuk melakukan upacara. Sistem tersebut tidak bersifat parsial melainkan dalam satu kesatuan.

Adapun sistem tersebut meliputi Sistem Surya Pralingga atau Surya Sewana. Sistem ini menitik beratkan posisi kecondongan matahari. Dari sudut astrologi kecondongan dan edar matahari terhadap Bumi, berdampak dan berpengaruh pada keaadan di Bumi. Keberpengaruhan ini menimbulkan musim dan Padewasan hari baik dan hari buruk dalam sistem penanggalan  petani di Bali. Dari sistem ini munculah ala ayuning dewasa menurut Sasih.

Sistem Candra Pralingga/Candra Pramana, sistem ini memfokuskan pada posisi planet bulan ketika melakukan rotasi terhadap keberadaan bumi. Penampakan sinar bulan (pananggal)  dan ketidak nampakan sinar bulan (panglong) berpengaruh pula dengan keadaan di Bumi.

“Maka dari sinilah muncul sistem penanggalan yang disebut Padewasan anut ring Pananggal lan Panglong,” papar Suarioka.

Selanjutnya, Sistem Bumi Pramana yakni suatu sistem yang tidak menggantungkan keberadaan benda-benda angkasa, baik itu matahari maupun bulan. Perhitungannya bersandar pada sistem tersendiri. Dasar penghitungannya adalah keyakinan bahwa waktu dalam substansinya  yang disebut dina atau hari memiliki makna tentativitas (penyesuaian) dalam aktivitas manusia.

Dipercayai bahwa dina atau hari dalam keseharian ataupun berkala memiliki pemaknaan tersendiri. Sistem Bumi Pramana melahirkan Sistem Penanggalan Pawukon. Dari sistem Pawukon memunculkan wuku dan wara/wewaran. Wuku merupakan perhitungan waktu berkala yang berumur 7 hari. Sedangkan Wara/Wewaran merupakan perhitungan yang umurnya sehari. Akulturasi Wuku dan Wewaran melahirkan padewasan, yang disebut ala ayuning dina. Ini pulalah yang menjadi dasar petani di Bali dalam melakukan aktivitasnya.

Suarioka juga menjelaskan ada 28 (dua puluh delapan ) aktifitas ritual yang dilakukan krama subak di Bali dalam mengelola tanah garapan dalam penanaman padi di sawah, dari Nyaag, Magpag Toya, Upacara Ngendagin, Ngurit, Mabuwihan. Di sini perlakuan petani terhadap padi seperti perlakuan terhadap anak. Ada upacara padi berumur 12 hari, sampai 42 hari.

“Namun di zaman modern ini, semua sudah berubah. Dengan teknologi kimia, padi bisa cepat dipanen, tidak lagi mengikuti sistem waktu tersebut. Begitu pula Jineng sekarang sudah tidak lagi untuk menyimpan padi, tetapi untuk hiasan rumah. Inilah tantangannya,” paparnya.

Sementara itu, Patricia Elizabeth juga menjelaskan tentang sistem penanggalan Mesoamerika. Di Meksiko, meski lama dianggap punah, ilmu dari suku Aztec dan Maya masih tetap mengalir.

Menurutnya, sistem penanggalan kuno tersebut berorientasi pada benda-benda di langit seperti matahari, bulan, dan planet venus. Upacara kehidupan berdasarkan sistem penanggalan Mesoamerika juga menekankan keharmonisan relasi dengan sesama manusia, dengan alam dan makhluk di lingkungannya, dan dengan yang Adikodrati dan alam semesta.

Patricia Elizabeth menjelaskan misal bangsa Maya Kuno mempunyai kemampuan sangat tinggi dalam ilmu astronomi dan matematika. Perhitungan waktu meliputi perioda dasar 20 bagian 13 hari yang akhirnya menjadi penanggalan 260 hari. Ada juga pengertian mengenai masing-masing sifat dalam satu hari saat matahari terbit, saat matahari di puncak atas bumi, dan saat terbenam. Kebudayaan Mesoamerika melihat waktu sebagai sesuatu yang penting bagi manusia baik dalam melakukan aktivitas keseharian maupun dalam melakukan upacara ritual. Menurut Patricia, saat terjadi gerhana matahari dan bulan misalnya, maka dilakukan upacara ritual. Siklus matahari, bulan dan planet venus juga terkait dengan kesuburan alam mulai dari kehamilan manusia hingga panen. Khususnya planet venus terkait dengan air – misal musim hujan dan musim kemarau yang tentu terkait dengan kehidupan agraris.

Patricia Elizabeth menyatakan minimum setiap hari, masyarakat tradisional akan doa syukur atas anugerah tenaga alam pada saat matahari terbit dan pada puncak hari, kemudian saat matahari terbenam doa syukur bahwa bagian lain di Bumi akan terima cahaya-nya. Sistem penanggalan Mesoamerika merupakan titipan leluhur yang mengandung nilai-nilai sikap harmoni antara jagad cilik di bumi ini dengan gerakan abadi alam semesta.

Diskusi bulanan ini, yang bersifat dialog antarbudaya, tutup dengan sekitar 100 peserta dari UNHI, Universitas Udayana, dan Institut Seni Indonesia Denpasar bersama-sama ikut tari doa Aztek yang dibimbing oleh Patricia Elizabeth kemudian Puja Tri Sandhyā yang dibimbing oleh Ida Kade Suarioka sesuai dengan perjalanan waktu pada pukul 18:00 untuk kerahayuan dunia. ***

IMG_0117 IMG_0114 IMG_0112 IMG_0110 IMG_0104 IMG_0102 IMG_0098 IMG_0119