Prodi Planologi UNHI Sedot Perhatian UGM
12 April

Prodi Planologi UNHI Sedot Perhatian UGM

FAKULTAS Teknik Universitas Hindu Indonesia (FT-UNHI), Denpasar, merupakan satu-satunya perguruan tinggi di Bali yang mengelola Program Studi (Prodi) Planologi atau perencanaan wilayah dan kota. Dengan mengusung konsep pendidikan berbasis budaya dan agama, prodi Planologi UNHI sukses menyedot perhatian Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Terbukti, sebanyak 68 mahasiswa Prodi Pembangunan Wilayah UGM, melaksanakan kuliah kerja lapangan (KKL) spesifik di UNHI, pada Rabu (11/4). KKL tersebut juga bertujuan menguatkan kerja sama antar-perguruan tinggi. Apa lagi, antara kedua prodi itu sangat mirip, lakayknya ‘saudara’.

“Kami melihat Unhi Denpasar ini spesifik punya ciri khas kebudayaan dan keagamaan, sehingga kami bisa belajar mengenai perspektif pembangunan dari keagamaan dan kebudayaan Bali yang luas. Kita mesti mempertemukan ilmu-ilmu yang berkembang di Barat maupun di Timur, dan akhirnya mencoba melihat lokalitas. Khusus untuk lokalitas dipilih penelitian di Kabupaten Badung,” kata Ketua Departemen Geografi Pembangunan Fakultas Geografi UGM Prof. Dr. M. Baiquni., MA disela-sela KKL.
Dipilihnya Kabupaten Badung, lanjut dia, karena merupakan daerah dengan pertemuan antara nilai lokal dan global dalam kegiatan kepariwisataan yang meliputi dimensi kebudayaan, sosial, ekonomi dan lingkungan. Meskipun demikian, tetap masih ada penghormatan dan penghargaan terhadap keberagaman agama.

Menurut Baiquni, sebelum melaksanakan KKL, para mahasiswa telah melakukan kajian pustaka dan juga membangun perspektif tentang pembangunan di Kabupaten Badung dan selanjutnya menyusun instrumen penelitian, serta sekarang melakukan penelitian.

Di Unhi Denpasar untuk mendapatkan masukan, serta pada hari yang terakhir para mahasiswa akan presentasi mengenai temuan-temuan lapangan yang didapatkan dengan jajaran Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Badung.

“Jadi mahasiswa dilatih tidak saja berkolaborasi antarperguruan tinggi, tetapi juga presentasi di depan pemerintah daerah, dengan demikian bisa berkontribusi pada pemerintah daerah,” ujar Baiquni. Meskipun pemerintah daerah sudah banyak melakukan kajian, kata dia, tetap masih diperlukan pandangan anak muda tentang masa depan daerah ini.

Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UNHI Denpasar I Komang Gede Santhyasa, ST., MT., mengatakan dipilihnya kampus setempat sebagai tempat tujuan KKL tidak terlepas dari keunikan yang dimiliki Unhi Denpasar. “Prodi di sini unik karena berbasiskan budaya dan agama, sedangkan UGM berbasis masyarakat, sehingga akan sangat menarik jika dikolaborasikan,” ujar Santhyasa.

Apalagi, lanjut dia, Kemenristekdikti memang mengarahkan adanya pengembangan kerja sama antarperguruan tinggi, serta Prodi Planologi UNHI merupakan bagian dari Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia (ASPI). “Kami juga pernah menjadi tuan rumah rakornas ASPI di Bali tahun 2012 silam. Padahal ketika itu keanggotaan kami baru 2 tahun. Semoga ini tanda-tanda kemajuan untuk kami,” harapnya.

Santhyasa yang juga jebolan sarjana teknik UGM ini menjelaskan, meskipun lembaganya mengusung konsep budaya dan agama, namun mahasiswa yang berasal dari luar Bali bukan berarti dipaksa membangun sesuai konsep Bali. “Mahasiswa kami ajarkan untuk menggali nilai-nilai budaya di daerahnya masing-masing. Kami bangun spriritnya. Nanti setelah lulus, mereka akan membangun kampungnya dengan kearifan lokal di sana,” kata dia memungkasi. **

IMG_0115 IMG_0119 IMG_0123 IMG_0126 IMG_0128 IMG_0129 IMG_0130