SEMINAR NASIONAL PENGUATAN WAWASAN KEBANGSAAN UNTUK MELAWAN RADIKALISME
14 November

SEMINAR NASIONAL PENGUATAN WAWASAN KEBANGSAAN UNTUK MELAWAN RADIKALISME

Penyebaran paham radikal telah merajalela melalui dunia maya yang sangat mudah diakses oleh generasi muda. Penyebarannya telah memasuki dunia pendidikan yang menyasar kaum intelektual. Untuk melawan dan menangkalnya, Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Bimas Hindu Kementerian Agama RI menyelenggarakan seminar nasional bertema “Penguatan Wawasan Kebangsaan untuk Melawan Radikalisme” di Hotel Nikki, Denpasar, pada hari Selasa tanggal 14 Nopember 2017.

Seminar menghadirkan empat narasumber yaitu Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si. (Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI), Mayjen (Purn) TNI Wisnu Bawa Tenaya, S.IP. (Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila), Dr. AAGN Ari Dwipayana, S.IP., M.Si. (Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi) dan Prof. Dr. I Putu Gelgel, S.H., M.Hum. (Guru Besar Unhi Denpasar).

Rektor Unhi Denpasar Dr. Ida Bagus Dharmika, M.A. mengatakan radikalisme kini menjadi musuh bangsa Indonesia, karena mengancam empat pilar kebangsaan yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, UUD 1945 dan NKRI. Paham yang sangat bertentangan dengan Pancasila tersebut kini 37% (data BNPT) tengah masuk di dunia pendidikan menyasar kaum muda intelektual bangsa yang merupakan generasi emas Indonesia ke depannya.

Penyebaran paham radikal harus ditangkal dan dicegah dengan berbagai upaya. Salah satunya memperkuat jati diri ideologi bangsa, yaitu Pancasila di setiap lini kehidupan generasi muda intelektual. Hal ini dapat dilakukan dengan memasukkan pemahaman ideologi Pancasila ke dalam kurikulum pembelajaran di kampus. Di samping itu memberikan ruang kepada mahasiswa untuk menyampaikan argumentasi dan pandangannya terhadap nilai-nilai Pancasila dalam bentuk mimbar bebas (mimbar akademik).

Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Prof. Drs. I Ketut Widnya, M.A., M.Phil., Ph.D. menjelaskan, penyebaran paham radikal tidak hanya karena kemiskinan, kebodohan, kekecewaan atau ketidakadilan, tetapi sudah terpapar di kalangan intelektual melalui media sosial. Pada awalnya paham radikal dianggap biasa oleh sebagian orang, namun kini perkembangannya secara memaksa rnenghancurkan ideologi bangsa Indonesia semakin mengkhawatirkan. Oleh karena itu, kesadaran berkebangsaan dengan Pancasila sebagai dasarnya harus terus ditumbuhkembangkan dalam setiap jati diri generasi muda bangsa.

Sementara itu, Prof. Dr. I Putu Gelgel mengatakan, untuk menangkal paham radikal maka semangat kebangsaan harus direvitalisasi demi kokohnya persatuan bangsa Indonesia ke depannya. Merevitalisasi semangat kebangsaan dapat dilakukan dengan menghidupkan kembali mata kuliah Pancasila dan Sejarah Perjuangan Bangsa dalam kurikulum pembelajaran di kampus.

 

 

Galery :

IMG_0206 IMG_0209 IMG_0010 IMG_0011 IMG_0013 IMG_0016 IMG_0026 IMG_0037 IMG_0061 IMG_0068 IMG_0072 IMG_0075 IMG_0081 IMG_0082 IMG_0083 IMG_0088 IMG_5697 IMG_5714 IMG_5721 IMG_5596 IMG_5602 IMG_5678 IMG_5684 IMG_5689 IMG_0052 IMG_0048IMG_0093 IMG_0095 IMG_0098 IMG_0104 IMG_0105 IMG_0110 IMG_0116 IMG_0126 IMG_0139 IMG_0167 IMG_0170 IMG_0177 IMG_0180 IMG_0182 IMG_0185 IMG_0189 IMG_0192 IMG_0196