Ujian Terbuka Promosi Doktor Dra. Ni Luh Gede Hadriani, M.Si
14 September

Ujian Terbuka Promosi Doktor Dra. Ni Luh Gede Hadriani, M.Si

Dra. Ni Luh Gede Hadriani, M.Si. meraih gelar doktor pada Program Doktor Ilrnu Agama dan Kebudayaan Program Pascasarjana .Universitas Hindu Indonesia (Unhi), Kamis (14/9). Istri Prof. Dr. I Putu Gelgel ini tercatat sebagai doktor ke-42 lulusan Pascasarjana Unhi.

Mempertahankan disertasi berjudul “Patiwangi Dalam Upacara Perkawinan Umat Hindu di Kota Denpasar”, Hadriani dinyatakan Iulus dengan predikat cumlaude.

Pada sidang senat terbatas dengan agenda promosi doktor di Aula Gedung Rektorat Unhi, Hadriani diuji dewan penguji yang diketuai Dr. I.B. Dharmika, M.A. (Rektor Unhi). Selaku prornotor Prof. Dr. I B.G. Yudha Triguna dan kopromotor Dr. I Wayan Budi Utama. Anggota dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. E. Dewi Yuliana, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, Prof. Dr. I Wayan_Suka Yasa, Dr. Wayan Paramartha, Dr. Ni Putu Suwardani, Dr. I Gusti Ayu Putu Wimba dan Dr. Wayan Subrata.

Hadriani dalam disertasinya mengatakan, patiwangi pada upacara perkawinan dalam masyarakat Hindu di Bali sebenarnya sudah dihapus pada tahun 1951 dengan dikeluarkannya Keputusan DPRD Bali No.11 Tahun 1951. Namun, sampai saat ini keputusan itu belum berlaku efektif. Sekalipun telah dilarang sejak 1951, upacara patiwangi tetap dilaksanakan dalam upacara perkawinan antarwangsa oleh masyaraktat Hindu dengan sejumlah alasan.

Pertama, mereka mengikuti tradisi yang diwarisi oleh masyarakat sejak zaman dulu yang tidak berani dilanggar. Kedua, mereka mengharapkan terciptanya kebahagiaan, ketenangan dan keharmonisan dalam hubungan keluarga, baik_hubungan harmonis antara pasangan mempelai maupun hubungan harmonis antara keluarga dan masyarakat. Ketiga, mengikuti petunjuk yang menyarankan agar melaksanakan upacara patiwangi jika dalam masyarakat ada yang melakukan perkawinan antarwangsa dengan tujuan agar ada kesamaan derajat kedua pasangan mempelai.

Kopromotor Prof. Yudha Triguna rnenyampaikan, ada beberapa hal yang bisa dimaknai dari hasil penelitian Hadriani. Pertama, tidak semua aktivitas agama dan budaya yang dianggap bertentangan dengan nilai baru dianggap jelek oleh masyarakat. Setidaknya, jika patiwangi dianggap dan atau diinterpretasikan sebagai “membunuh” wangsa, ternyata diyakini sebagai media mencapai hidup harmoni dan bahagia.

Kedua, masyarakat kota sebagai representasi masyarakat modern terbukti masih melaksanakan tradisi, padahal dalam teori modernitas acap kaIi meniadakan tradisi. Ketiga, sering hukurn pemerintah diacu belakangan dibandingkan dengan nilai agama. Dengan kata Iain, jika dihadapkan pada dua pilihan antara taat pada hukum negara atau agama, masyarakat akan Iebih condong bertumpu pada nilai dan hukum agama. Di sisi lain, kepada doktor baru dan keluarga, Prof. Yudha Triguna mengucapkan selamat atas diraihnya gelar akademik. Ilmu yang diperoleh diharapkan berguna bagi bangsa dan negara.