background

AGAMA BUDAYA

TATTO GANESA, TATU BAGI UMAT HINDU


Image

I Gusti Ketut Widana

Fakultas Pendidikan Agama dan Seni

Universitas Hindu Indonesia

Denpasar

Email: igustiketutwidana1805@gmail.com

 

 

1.1 Pendahuluan

Pelaksanaan  yadnya dengan rangkaian upacara dan upakaranya melahirkan beraneka rupa, bentuk, jenis,  peralatan, sarana, prasarana lainnya, lengkap dengan simbol-simbol yang disandang, beserta    makna yang dikandung yang secara kasat mata memang lebih tampak sebagai benda hasil kreasi budaya (cipta, rasa, karsa) umat, namun ditinggikan derajat nilainya, sehingga tidak sekedar bernilai benda dengan gunanya tetapi  juga bernilai simbolik.

Namun di  tengah  derasnya arus  pariwisata global di Bali,  dengan pengaruh materialisme dan kapitalismenya,  sepertinya  tidak  ada lagi  hal yang tidak  bisa  dijual  demi alasan memajukan industri pariwisata yang telah dinobatkan sebagai pengumpul devisa terbesar setelah minyak bumi. Akhirnya,  semua potensi kebudayaan ragawi (kebendaan) termasuk  rohani (keagamaan)   menjadi serba “bisa/boleh”  dikemas sebagai produk berlabel pariwisata. Pandangan  inilah  yang  kemudian melahirkan  pernyataan, bahwa di  Bali sekarang  ini umat Hindunya  sudah  menjadikan  pariwisata sebagai  “agama”  zaman now berbasis “monbeytheisme”.  Suatu  bentuk  keyakinan  (sebagian)  masyarakat  Bali  yang  memandang,   hanya  dengan  pariwisatalah Bali  bisa   mencapai  kesejahteraan fisikal, melalui pundi-pundi pendapatan (keuangan),  meski harus menyeret hal-hal sakral-transendental ke ranah material-finansial (Widana,  2012 :  15).

Apalagi jika ditilik dari sisi kepentingan agama  yang  menjadi pondasi  kekuatan spiritual  Bali,    bisa  saja  karena  pariwisatalah   Pulau Bali yang sakral  (suci), dengan orang Bali  (Hindu)  yang  berjiwa  sosio-magis-religius  justru menjadi ambisius  mengejar  keuntungan  material-finansial.  Akibat ambisi   mengejar target  devisa negara, meningkatkan pendapatan asli daerah,  meraup keuntungan besar para pelaku pariwisata,  akhirnya Pulau   Bali  tak ubahnya seperti   “komoditi”, sebagaimana layaknya barang dagangan untuk kemudian dijual bahkan tak jarang diobral. Termasuk yang kini menimpa sosok suci putra Dewa Siwa yaitu Dewa Ganesa, yang mau tidak mau harus mengalami degradasi nilai dalam bentuk desakralisasi atau profanisasi, dengan menjadikannya sebagai objek tatto pada media tubuh manusia, bisa laki dan perempuan, diantaranya dengan menempatkan gambarnya pada bagian organ sensual.

 

  • PEMBAHASAN

 

1.2.1 Riwayat Dewa Ganesa

 

  • Kelahiran Dewa Ganesa

Terdapat berbagai versi mengenai kelahiran Ganesa, namun kisah yang paling terkenal berasal dari kitab Siwapurana. Mitos-mitos dalam Purana memiliki ketidakpastian mengenai kelahirannya. Dia bisa saja diciptakan oleh Siwa, atau oleh Parwati, atau oleh Siwa dan Parwati, atau muncul secara misterius dan ditemukan oleh Siwa dan Parwati. Meski pada umumnya Ganesa terkenal sebagai putera dari Siwa dan Parwati.

Merujuk  versi  kitab Siwapurana dikisahkan,  suatu ketika Parwati (istri Dewa Siwa) ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, ia menciptakan seorang anak laki-laki. Ia berpesan agar anak terssebut tidak mengizinkan siapapun masuk ke rumahnya selagi Dewi Parwati mandi dan hanya boleh melaksanakan perintah Dewi Parwati saja. Perintah itu dilaksanakan sang anak dengan baik. Alkisah ketika Dewa Siwa hendak masuk ke rumahnya, ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh anak kecil yang menjaga rumahnya. Bocah tersebut melarangnya karena ia ingin melaksanakan perintah Parwati dengan baik. siwa menjelaskan, bahwa ia suami Parwati dan rumah yang dijaga si bocah adalah rumahnya juga. Namun sang bocah tidak mendengarkan perintah Siwa, sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. Akhirnya  Siwa kehabisan kesabarannya dan bertarung dengan anaknya sendiri. pertarungan amat sengit sampai akhirnya Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala si bocah.

Ketika Parwati selesai mandi, ia mendapati puteranya sudah tidak bernyawa. Ia marah kepada suaminya dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali. Siwa sadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya. Atas saran Brahma, Siwa kemudian mengutus abdinya, yaitu para gana, untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Ketika turun ke dunia, gana mendapati seekor gajah sedang menghadap utara. Kepala gajah itu pun dipenggal untuk menggantikan kepala Ganesa. Akhirnya Ganesa dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa dan sejak itu diberi gelar Dewa Keselamatan (Satria, 2015 : 40-41).

 

  • Penggambaran Dewa Ganesa

Ganesa kadangkala digambarkan berdiri, menari, atau duduk. Ganesa adalah sosok Dewa  berkepala gajah dengan perut buncit, dan memiliki empat lengan. Dia membawa patahan gadingnya dengan tangan kanan bawah dan membawa kudapan manis, yang ia comot dengan belalainya, pada tangan kiri bawah. Ganesa juga  memegang sebuah kapak atau angkusa pada tangan sebelah atas dan sebuah jerat pada tangan atas lainnya.

Pada mulanya nama Ganesha adalah Ekadanta (satu gading), merujuk kepada gadingnya yang utuh hanya berjumlah satu, sedangkan yang lainnya patah. Ganesa juga digambarkan dengan perut buncit, karena menurut Mudgalapurana, dua penjelmaan Ganesa yang berbeda memakai nama yang diambil dari Lambodara yang berarti perut buncit, atau secara harifah perut bergelanjutan dan Mahodara (perut besar).

Menurut Ganesapurana, Ganesa juga digambarkan melilitkan ular Basuki dilehernya. Penggambaran lain tentang ular meliputi kegunaannya sebagai benang suci yang dililitkan melingkari perut sebagai sabuk, dipegang ditangan, dililitkan di pergelangan kaki, atau dipakai sebagai mahkota. Pada bagian dahi Ganesa kemungkinan ada mata ketiga atau simbol sekte Siwa (Sanskrta: tilaka), yang berupa tiga garis mendatar. Ganesapurana mengatakan bahwa tanda tilaka sama saja dengan bulan sabit pada dahi kepala. Wujud tertentu dari Ganesa yang disebut Bhalacandra “bulan di dahi” memasukan unsur penggambaran tersebut.

Sebuah lukisan bergaya Tajore, menampilkan Ganesa yang sedang mengendarai wahananya, yaitu tikus. Dibelakangnya tampak seorang pelayan yang setia menemaninya. Citra Ganesa pada mulanya tidak disertai dengan wahana (tunggangan). Pada delapan penjelmaan Ganesa yang dinyatakan dalam Mudgalapurana, Ganesa lima kali menggunakan tikus dan lima penjelmaannya menggunakan singa saat menjelma sebagai Wakratunda, seekor merak saat menjelma sebagai Wikata, dan menggunakan  naga  dalam penjelamaannya sebagai Wignaraja. Pada empat penjelamaan Ganesa yang terdaftar dalam Ganesapurana, Mohotkata menunggai singa, Mayureswara menunggangi merak, Dumraketu menunggangi kuda, dan Gajanana mengunggangi tikus (Satria, 2015 : 31-36).

 

  • Pemujaan Dewa Ganesa

 

Ganesa banyak dipuja saat acara kerohanian mauupun kegiatan sehari-hari, khususnya saat mulai berniaga seperti membeli kendaraan atau mulai bisnis. K.N. Somayaji berkata “jarang ada rumah (Hindu di India) yang tidak memiliki arca Ganesa (disebut juga Ganapati). Ganapati, sebagai Dewa yang termasyhur di India, dipuja oleh hampir seluruh kasta dan di seluruh penjuru negara”. Pemujanya percaya bila Ganesa dibuat senang, ia akan memberi kesuksesan, kemakmuran, dan perlindungan terhadap bencana.

Ganesa bukan dewa bagi sekte tertentu, dan umat Hindu seluruh denominasi memanggil namanya saat memulai persembahyangan, memulai usaha yang penting, dan upacara keagamaan. Penari dan musisi, khususnya di India selatan memulai pertunjukan seni seperti misalnya tari Bharatanatyam dengan lebih dulu memuja Ganesa. Mantra-mantra seperti misalnya Om Shri Ganeshaya namah (Om, hormat pada Hyang Ganesa yang mahsyur-mulia) seringkali dipakai salah satu mantra paling terkenal yang diasosiasikan dengan Ganesa adalah Om Gam Ganataye namah.

Ganesa dipuja secara luas sebagai “dewa bagi semua orang”. Dalam tempat suci Hindu, Ganesa dapat diuraikan beraneka macam : sebagai parswadewata atau dewa bawahan; sebagai dewa yang erat dengan dewa utama atau pariwaradewata; atau sebagai dewa utama disebuah kuil pradhana, dijamu bagaikan dewa tertinggi di antara dewa-dewi Hindu.

Sebagai dewa keluar-masuk, Ganesa banyak ditempatkan di pintu gerbang kuil Hindu untuk menghalau hal-hal buruk, yang sama dengan perannya sebagai penjaga pintu rumah Parwati. T.A. Gopinatha berkata, “setiap desa, meskipun desa kecil, memiliki citra Wigneswara-nya sendiri dengan atau tanpa kuil menempatkannya. Di jalan masuk menuju desa atau sebuah benteng, di bawah pohon bodhi dalam sebuah relung, di kuil Wisnu maupun Siwa dan juga pada bangunan suci yang khususnya dibangun dalam kuil Siwa; figur Wigneswara kelihatan tak berubah-ubah.” Kuil Ganesa juga dibangun di luar India, termasuk Asia tenggara, Nepal, dan di beberapa negara barat, termasuk di Indonesia, khususnya di Bali (Satria, 2015 : 43-46)..

Sosok Dewa Ganesa di Bali lebih dikenal dan dipuja dalam konteks sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan sekaligus selaku Dewa Penghancur segala rintangan atau halangan. Sebagai Dewa Ilmu Pengetahuan dan Kebijaksanaan, keberadaannya dihadirkan melalui wujud Arca pada lembaga-lembaga pendidikan (sekolah atau perguruan tinggi), sedangkan selaku penghancur segala rintangan dan halangan, sosok magis Dewa Ganesa yang berfungsi sebagai pelindung dihadirkan, tepatnya ditempatkan dalam bentuk Arca  pada bagian depan pintu masuk rumah, dan juga Pura, atau pada bagian depan setelah masuk pagar (panyengker). Lebih spesifik lagi figur Dewa Ganesa ini juga seringkali disthanakan pada bangunan suci (palinggih) Pura.

 

1.2.2 Dewa Ganesa sebagai Simbol  Agama

 

Meskipun secara kasat mata, simbol-simbol agama adalah fakta kebudayaan, karena wujudnya dapat berbentuk benda-benda dan juga non benda. Tetapi agama (religi) bukanlah kebudayaan, sebab berada dalam tataran abstrak (bathin) yang inti dan sifatnya berhubungan dengan kepercayaan/keyakinan (sradha). Manifestasi sraddha agar benar-benar tampak nyata itulah sebagai cara-cara menjalankan agama, yang diantaranya dapat melahirkan simbol-simbol (Artadi, 2011 : 35-36).

Melalui   bukunya “Kunci-kunci Metodologis dalam Studi Simbolisme Kegamaan”, Eliade (2000 : 184) menyatakan bahwa kunci pertama untuk memahami simbol-simbol keagamaan adalah bagaimana agar dunia “berbicara” atau “mengungkapkan diri” melalui simbol-simbol, dan bukan dalam bahasa utilitarian atau objektif. Simbol-simbol bukan sekedar cerminan realitas objektif, ia mengungkapkan sesuatu yang lebih pokok dan lebih mendasar. Begitu pula  dengan  simbol-simbol dalam agama Hindu dengan berbagai bentuk, wujud, nama dan fungsinya adalah mengandung arti untuk medekatkan umat kepada yang dipuja, yakni Tuhan Yang Maha Esa, manifestasi-Nya, para Devata, Roh-Roh para Rsi, dan Roh  leluhur yang telah disucikan sesuai dengan ajaran Hindu (PHDI, 2013 : 67). Ini berarti sosok Dewa Ganesa adalah sebagai salah satu simbol identitas agama Hindu.

Berdasarkan hal itru, sudah saatnya khalayak umum, khususnya para pelaku dunia pariwisata untuk mengetahui,  memahami dan diharapkan dapat menjadikannya sebagai pedoman tentang  suatu “benda” yang dapat  dikatakan sebagai benda budaya semata, atau merupakan hasil ekspresi budaya rohani bernilai sakral yang berfungsi sebagai simbol agama (Hindu). Secara  estetika, seperti halnya sosok Dewa Ganesa yang telah diwujudkan dalam bentuk patung/arca,  memang tampak mempunyai keunikan dan spesifikasi dari segi bentuk, dan rupa atau tampilannya yang  eksotik, sehingga seringkali dinilai sebagai benda hasil karya budaya belaka, kemudian didayagunakan oleh pelaku pariwisata   sebatas sebagai benda hasil kreasi seni bernilai ekonomi, lalu tanpa merasa berdosa  dikomersilkan alias diperjualbelikan sebagaimana lazimnya barang komoditi lainnya.

 

1.2.3    Dewa Ganesa sebagai Objek Tatto

 

Fenomena komodifikasi benda-benda bernilai keagamaan (suci/sakral) sepertinya sudah lumrah dalam industri pariwisata di Bali. Mulai dari pemanfaatan Pura yang adalah tempat suci umat Hindu sebagai objek wisata, pengemasan upacara yadnya sebagai paket wisata, pentas tari sakral (wali) sebagai tontonan para turis, termasuk pemanfaatan simbol-simbol suci Hindu dengan beraneka rupa, jenis dan bentuknya sebagai komoditi untuk memenuhi selera wisatawan. Satu diantaranya adalah dengan menjadikan sosok suci dan sakral Dewa Ganesa sebagai objek Tatto pada media tubuh manusia.

Jika dicermati,  di berbagai tempat  wisata, seperti Kuta, Nusa Dua, Sanur, Candi Dasa, termasuk juga di Ubud sebagai destinasi wisatawan nusantara berkelas internasional,  menunjukkan fakta adanya geliat dan gairah usaha Tatto yang ternyata menjanjikan keuntungan lumayan. Sebagai kawasan pariwisata global/internasional, di tempat-tempat sebagaimana disebut di atas dijumpai puluhan bahkan ratusan usaha  Tatto, baik yang dikelola dan didanai pengusaha lokal, maupun luar Bali.

Andai saja  usaha Tatto yang kian tumbuh berkembang produktif itu mengambil objek diluar simbol suci/sakral Hindu mungkin saja hal itu dianggap sebagai sebuah kelaziman, biasa, lumrah dan tidak masalah. Namun ketika usaha Tatto tersebut sudah mulai memanfaatkan simbol suci/sakral Hindu dalam wujud Dewa, manifestasi Tuhan, khususnya lagi Dewa Ganesa sebagai objek Tatto, tentu tidak bisa dipandang remeh. Bagi umat Hindu, memindahkan sosok Ganesa pada  media batu, logam atau kayu sebagai arca atau relief, pada kain sebagai kober (bendera) atau rerajahan (kaligrafi) jelas sebagai  hal  biasa, bisa diterima dan sudah menjadi bagian dari uparengga (sarana/prasarana) kelengkapan upacara/upakara.

Akan tetapi ketika sosok Dewa Ganesa yang dipuja harus didegradasi nilai kesucian/kesakralannya, lalu dipindahkan sebagai objek Tatto pada media tubuh manusia (laki/perempuan), bahkan dengan penempatan pada posisi bagian tubuh yang tidak etis hingga ke lekuk organ vital dan sensual, tentu  patut dipertanyakan bahkan wajib dipersoalkan tanggungjawab moralnya. Sebab penempatan sosok Dewa Ganesa pada media tubuh merupakan bentuk komodifikasi yang berakibat terjadinya desakralisasi atau profanisasi, bahkan bisa dianggap sebagai tindakan pelecehan, penistaan atau penodaan terhadap simbol suci Hindu.

Bagi pemilik usaha Tatto,  bisa saja berdalih bahwa apa yang dilakukan  itu sebagai bentuk  menangkap peluang bisnis di kalangan turis, meski  harus mengalahkan landasan etis, filosofis dan teologis dari sosok Dewa Ganesa,  dengan  memanfaatkan simbol suci Hindu itu sebagai objek komoditi. Begitupun dari para  pelaku atau praktisi Tatto, acapkali mengatakan usahanya itu sebagai bentuk penyaluran hobi yang sekaligus mendatangkan keuntungan finansial. Berbeda halnya jika  umat Hindu diminta tanggapannya, yang secara keimanan (sraddha) meyakini sosok Ganesa sebagai putra Dewa Siwa, manifestasi Tuhan (Hyang Widhi) sebagai pelebur (pamralina), jelas akan merasa “terluka” perasaan bhaktinya melihat sosok Dewa yang dipujanya digambar/dilukis pada bagian tubuh manusia yang tidak etis, seperti pada bagian kaki, paha, berdekatan dengan pantat atau bahkan bersinggungan dengan alat vital yang sensual.

 

1.2.4    Tatto Ganesa sebagai Tatu bagi Umat Hindu

           

            Tumbuh berkembangnya usaha Tatto dalam gairah industri pariwisata di Bali,  dapat dicermati sebagai fenomena :

           

  • Berkuasanya Ideologi Pasar

 

Ideologi merupakan faktor penting bagi penggerak tindakan manusia, bahwa manusia bertindak, berbuat atau melakukan sesuatu  tidak lepas bahkan sangat bergantung pada ide atau gagasannya. Jika dikaitkan dengan kecenderungan pemikiran pelaku pariwisata menyeret ranah agama melalui komodifikasi simbol-simbol sucinya, inilah yang oleh  Atmaja (2006 : 122) disebut sebagai merasuknya pengaruh ideologi pasar. Hakikat ideologi pasar  adalah menempatkan pasar sebagai tempat sangat penting bagi pemenuhan segala keinginan dan kebutuhan manusia. Karena itu, pasar tak ubahnya seperti ‘tempat suci’ bagi ideologi pasar atau agama pasar. Bahwa  hanya untuk kebutuhan upacara yadnyapun, sekarang ini sudah berorientasi pada pasar (Geriya,  2008 : 103), tentunya dengan berbasis pada “moneytheisme” – keuangan yang maha kuasa.

Perihal kekuasaan uang itu sendiri, Simmel (dalam Ritzer,  2007 : 45) melalui  Philosophy of Money  menguatkan pandangan di atas bahwa  ekonomi  masyarakat modern dengan seluruh komponennya (termasuk ekonomi uang)  akan terus  berkembang, dan ketika semakin  berkembang  maka  arti penting (peran) individu dengan nilai kemanusiaannya cenderung  menurun bahkan merosot, tergantikan oleh nilai material-finansial yang perputarannya berporos pada keberadaan atau kepemilikan modal kapital --  lagi-lagi uang.

 

  • Bergesernya Konsep Bhakti Menjadi  “Bati”      

 

Bhakti adalah kata kunci bagi umat Hindu dalam merealisasikan keyakinan (sraddha) kehadapan Hyang Widhi, beserta manifestasinya. Akan tetapi ketika konsep bhakti sudah mulai terpengaruh,  bahkan tergerus oleh ideologi pasar  berbasis “moneytheisme” tentunya tak dapat dihindari terjadinya pergeseran dari konsep   bhakti menjadi “bati”. Dicirikan oleh tumbuhnya sikap pamrih untuk mendapatkan keuntungan material-finansial. Konsekuensinya, apa yang sebelumnya dipegang teguh sebagai bagian bhakti murni (parabhakti) dengan hanya memikirkan dan mrenungkan Tuhan semata, kini rasa bhaktinya telah  mengalami ditransformasi menjadi kesempatan ngalih bati (aparabhakti). Caranya dengan memanfaatkan simbol-simbol suci agama Hindu, dalam bentuk komodifikasi, termasuk terhadap simbol suci/sakral Dewa Ganesa sebagai objek Tatto pada tubuh manusia, dengan harapan mendapatkan keuntungan material-finansial.

Mengadopsi pandangan Sugiharto (dalam Adlin, 2007 : 5)  fenomena di atas dapat disebut sebagai situasi manusia modern atau zaman now.  Paradigma utamanya adalah memanipulasi tubuh/materi dengan lebih mengedepankan  bagaimana bisa “memiliki” materi lebih banyak, bukan bagaimana  “menjadi” orang yang lebih bermakna. Kenyataannya kini, kebanyakan orang di tengah peradaban modern kontemporer yang kian sekuler, nyaris tidak menyentuh persoalan menjadikan diri  semakin religius/spiritualis, tetpai lebih mengembangkan cara hidup  bergaya materialis, konsumeris dan hedonis. Sehingga yang tumbuh berkembang sebagai  modal rohaniah, bukannya  aktivitas ritual bergerak meningkat menjadi spiritual, justru berubah menjadi gairah  “spirit-jual”, suatu kondisi dimana umat  menggairahkan semangat “jual-beli”. Diliputi semangat  “kebatinan” dengan  menjual  segala potensi ritual  dengan simbol-simbol suci/sakralnya demi meraup keuntungan di tengah persaingan  industri pariwisata.

Bentuk aktivitas pariwisata dengan “mengorbankan”  media simbol ritual seperti halnya sosok Dewa Ganesa yang amat disucikan sekaligus dipuja inilah yang dapat dikatakan masuk ke dalam katagori Rajasik, karena didorong oleh motif keinginan mendapatkan pahala bati.  Hal ini dengan jelas dinyatakan  di  kitab suci Bhagawadgita, XVIII, 34 dan 38   :

 

“Yaya tu dharmakamarthan

 dhritya  dharayate ‘Arjuna,

 prasangena phalakanksi

 dhritih sa partha rajasi”;

“Wisayedriya samyogad

 yat tad agre ‘mritopanam,

 pariname wisam iwa

 tat sukham rajas am smritam”

 

Maksudnya :

“Tetapi O Arjuna, dengan mana seseorang berpegang pada kewajiban, kesenangan, kekayaan, menginginkan akan pahala sebagai konsekuensi mengharapkan pahala, keteguhan hati ini adalah rajasa ; ” Kebahahagiaan yang timbul dari hubungan antara indria dengan objek duniawi yang pada mulanya bagaikan amrita tetapi akhirnya jadi racun, kebahagiaan begini dicatat sebagai rajasa”  (Pudja, 1981 : 393, 395).

 

           

 

1.3 Penutup

 

            Bali memang dikenal bahkan terkenal melalui dunia pariwisata hingga mengglobal. Akan tetapi, pariwisata bukanlah segala-galanya, hingga harus mengorbankan simbol-simbol suci/sakral seperti halnya sosok Dewa Ganesa sebagai objek Tatto. Tindakan demikian sama saja dengan membuat tatu (luka) batiniah bagi umat Hindu yang begitu menjungjung tinggi Dewa Pujaannya, namun faktanya oleh palaku pariwisata  dijadikan sebagai komoditi melalui praktik komodifikasi. Tindakan komodifikasi tersebut,  sejatinya sama saja dengan   mendegradasi nilai kesucian/kesakralan bahkan keagungan dan kemuliaannya sehingga terjadilah apa yang disebut  desakralisasi atau profanisasi.

Sudah saatnya,  dinamika dunia industri pariwisata  digerakkan dengan tetap berjalan pada koridor kepatutan etik, dan normatif. Tentunya dengan  tidak mendegradasi tatanan nilai etis, estetis, filosofis dan teologis yang mendasarinya. Pariwisata tetap didorong dan dipersilakan berkembang dengan pesat mencapai kemajuan, tetapi dengan tanpa berkhianat pada amanat yang direfleksikan lewat simbol-simbol suci agama Hindu. Hanya dengan begitu, eksistensi Bali dengan karakter sosio-magis-religiusnya bisa dipertahankan keajegannya, yang sama artinya melanggengkan kelangsungan gemerlap dunia pariwisata yang memang sangat tergantung pada “roh” Hindu yang menjiwai adat dan  budaya masyarakat Bali.

 

Daftar Pustaka

 

 

Adlin,    Alfathri  .  2007.   Spiritualitas    dan      Realitas    Kebudayaan    Kontemporer.

            Yogyakarta & Bandung.  Jalasutra.

 

Artadi, I Ketut. 2011. Kebudayaan Spiritualitas. Denpasar : Pustaka Bali Post.

 

Atmadja,  Nengah   Bawa  2006.   “Pemanfaatan   Modal   Budaya   dan   Modal   Tubuh

            Menjadi  Modal  Ekonomi  Berbentuk  Hiburan  Seks  Melalui  Rangsangan  Mata

            (Kasus Joged Bumbung Ngebor di Buleleng, Bali),  Singaraja.

 

Eliade, Mircea. 2000. Kunci-Kunci Metodologis dalam Studi Simbolisme Keagamaan, dalam

            Metodologi Studi Agama, Editor Ahmad Norma Permata Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

 

Geriya,  I Wayan. 2008. Transformasi Kebudayaan Bali Memasuki Abad XXI. Surabaya :

            Paramita.

 

Parisada Hindu Dharma Indonesia. 2013. Swastikarana, Pedoman Ajaran Hindu

            Dharma.Denpasar : PT Mabhakti.

 

Pudja,  G. 1981. Bhagawadgita (Pancama Weda). Jakarta :  Mayasari.

 

Ritzer, George,  Douglas  J. Goodman. 2007.  Teori   Sosiologi  Modern, (Edisi Keenam). 

            (Alih  Bahasa :  Alimandan). Jakarta.  Kencana.

Satria, Wiras. 2015. Sejarah Paradewa. Yogyakarta : Lukita

 

Widana, I Gusti Ketut. 2012.  Penjor Lebay. Denpasar : Pustaka Bali Post.