background

AGAMA BUDAYA

Pembentukan Identitas Ala Bali


Image

Oleh: IGA Paramita

Saya memang tertarik mengkaji tentang identitas, asal usul, pembentukannya, termasuk cara pandang seseorang terhadapnya.  Tak sedikit individu dan kelompok sosial menganggap identitas itu penting—sebagai ciri baik sebagai individu maupun kelompok sosial.

Identitas secara individu bisa dilihat dari bentuk tubuh, gender, aksesori atau atribut yang digunakan. Itu yang fisikal. Ada juga identitas yang dilekatkan karena preferensi personal, hobinya, termasuk cara berpikirnya—istilah kerennya: ideologinya.

Begitu juga kelompok sosial. Identitas digunakan untuk memberi ciri dan penanda pada kelompok sosial. Antara etnik satu dan lain memiliki perbedaan identitas secara sosio-kultural. Begitu juga antara penganut agama satu dan agama yang lain memiliki perbedaan identitas. Kelompok masyarakat pun bisa dibedakan sesuai dengan identitas agamanya: Aku Hindu, Aku Muslim, Aku Buddha, Aku Kristen dsb. Pertanyaannya sejak kapan klasifikasi identitas berdasarkan agama ini benar-benar terlembaga, bahkan memicu persaingan dan konflik? Panjang ceritanya.

Amartya Sen termasuk tokoh paling geram terhadap penunggalan identitas ini. Ia mengkritik upaya klasifikasi peradaban berdasarkan pada identitas agama karena mengabaikan penanda identitas lain. Misalnya, setiap orang punya hobi yang sama mesti berbeda agama, setiap orang punya selera kuliner yang sama mesti berbeda agama, memiliki selera bacaan yang sama meskipun beda agama, memiliki selera berpakaian yang sama mesti beda agama.

Jadi menurutnya, pemanunggalan kategori identitas hanya berdasarkan agama menafikkan kemajemukan identitas manusia. Tapi toh, identitas berdasarkan agama kini menguat. Meskipun punya hobi yang sama, mereka kerap terpisah karena beda agama. Ini salah satu dampak dari pelembagaan identitas agama.

Saya mencoba melacak asal usul pemaknaan identitas di Bali dan bagaimana cara pandang orang Bali tentang identitasnya. Rumit, memang. Namun saya berupaya berbincang dengan beberapa tokoh dan intelektual Bali soal itu. Dari perbincangan itu, saya berupaya memahaminya dengan dua pandangan.

Pertama, orang Bali menganggap identitas berhubungan dengan yang vertikal—garis ke atas. Ini yang disebut keluhuran. Identitas yang vertical oriented. Orientasi vertikal ini terlembaga. Tempat penghormatan yang berhubungan dengan keluhuran disebut kawitan (asal usul). Orang Bali sangat takut kehilangan kawitan, apalagi salah kawitan. Identitas Kawitan ini seperti aliran air dari atas ke bawah (warih). Maka kemana aliran air perlu ditelusuri. Tak heran jika gerakan pencarian kawitan menjadi penting. Bahkan tak sampai di Bali, pencarian kawitan pun meluas di tanah Jawa. Mereka menganggap, upaya memahami diri berangkat dari pemahaman terhadap kawitan.

Pandangan kedua adalah identitas dalam posisi horizontal. Identitas ini berlangsung melalui konstruksi dialogis—jika kita pinjam istilah Picard dalam bukunya “Kebalian”. Identitas ini sangat dinamis. Dulu sebelum disebut beragama Hindu, orang Bali punya keyakinan tersendiri yang sinkretik. Di Bali ada istilah dresta dan sima.

Lalu dalam perkembangannya, identitas mereka terbentuk melalui dialog terbuka dengan kebudayaan luar. Kelangsungan identitas ini sangat bergantung pada pertemuan dan relasi dengan “yang lain”. Bisa dikatakan, identitas horizontal ini adalah sebuah “konstruksi sosial-kultural” secara historis. Apa yang kita sebut “kebalian”, tentu berhubungan dengan identitas yang terbentuk melalui orientasi vertikal dan horizontal.

Penelusuran cara pandang identitas ini pernah dilakukan oleh Dr. Mark Hobart—seorang dosen antropologi di Singapura yang datang ke Bali pada tahun 1967. Ia mengadakan penelitian di Bali pada bulan April 1968. Saat itu ia melakukan penelitian di Desa Tegalalang. Rencana Hobart melakukan penelitian tiga tahun, namun di tahun kedua ia diminta kembali ke Eropa sebagai dosen.

Selanjutnya pada tahun 1979 ia datang lagi ke Bali bekerjasama dengan LIPI meneliti tentang filsafat asli Bali. Namun bangunan filsafat yang disusunnya tidak bersumber dari lontar-lontar, namun berfokus pada kehidupan sehari-hari orang Bali kebanyakan—bukan filsafat yang dianut kaum bangsawan Bali. Bahkan ia mengaku telah menulis lebih dari 20 artikel tentang filsafat Bali.

Satu hal yang dikerjakannya adalah tentang cara pandang orang Bali tentang identitas. Ia melacak bagaimana pencarian identitas seseorang, apakah melalui pikiran atau tubuh. Lalu ia menerapkan permainan filsafat Eropa dalam mencari jawaban. Namun cilaka, ia tak menemukan.

Permainan di Eropa sederhananya seperti ini: Ada dua orang yang disebut Si A dan Si B. Keduanya kita bawa saja ke rumah sakit, otaknya ditukar. Otak si A ada di dalam tubuh si B, begitu sebaliknya. Lalu orang bisa menilai berdasarkan pikirannya. Mungkin maksudnya begini: di Eropa memang ada klasifikasi pemikiran yang cukup ketat, misalnya yang idealistik, empiris, dsb. Melalui cara berpikirnya, kita bisa membedakan dirinya. Identitas di sini bercokol dari pikirannya. Namun, menurut Hobart—permainan itu belum dimengerti.

Lalu ia membuat contoh lain. Ia mengibaratkan bercakap-cakap dengan Ketut. “Ketut mare pesu uli jumah ditu nepukin bebek putih, bebek putihe ento ngorahang,”Bli Ketut tiang desak pisagan Ketute”.

Cerita ini diulang oleh Hobart kepada tiap anak setiap menit. Lalu Bule ini menanyakan kepada orang yang mendengarnya, apakah yang dimaksud Desak itu bebek atau manusia. Hampir sering disampaikan, setiap orang datang percaya bahwa itu Desak. Namun setelah tiga jam diulangi baru ditemukan jawabannya. Akhirnya ada orang pintar datang dan memberi jawaban bahwa itu bebek, bukan manusia. Lho! Mengapa demikian?

Alasannya karena bebek itu tidak berfungsi sebagai manusia di dalam sistem banjar dan desa. Jika tak berfungsi bagaimana bisa diterima sebagai manusia? Kata Hobart, ia langsung klik dengan argumentasi tersebut. Lalu ia berkesimpulan bahwa orang Bali punya pandangan untuk mengenali identitas dirinya. Fungsi orang dicari dari intisarinya dari identitas itu. Berbeda dengan otak Eropa, untuk mencari identitas orang, pikiran yang diutamakan. Di sini identitas juga berhubungan dengan fungsi sosialnya secara horizontal.

Artinya, meskipun orang di rumah sayang pada seekor bebek, untuk urusan banjar dan upakara, bebek itu bisa disembelih kapan saja, meskipun bernama Desak. ***