background

BERITA

Calonarang "Katuduh Ratna Manggali" Tutup UBS IX Unhi Denpasar


Image

Berlangsung sejak 21 September lalu, Utsawa Bali Sani (UBS) IX Tahun 2018 Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar resmi ditutup dengan pementasan Calonarang "Katuduh Ratna Manggali" di Jaba Pura Maha Widya Mandira Kampus Unhi Denpasar, Kamis (27/9) malam. Pementasan calonarang ini melibatkan beberapa alumni Unhi Denpasar, salah satunya seniman bondres Tompel dan Sokir yang tergabung dalam grup bondres Celekontong Mas.

Selain pementasan Calonarang, pada penutupan UBS IX 2018 juga diumumkan para pemenang lomba seni yang diperlombakan selama festival UBS dilaksanakan. Seperti, lomba bapang barong, lomba jauk manis, lomba penjor, lomba gebogan, dan pemenang jenis lomba lainnya.

Ketua Panitia UBS IX 2018, Dr. Ir. I Wayan Muka, S.T.,M.T., mengatakan pementasan calonarang selalu rutin dilakukan sebagai penutup kegiatan UBS setiap tahunnya. Apalagi, sejak awal program UBS bertujuan untuk mengoptimalkan potensi-potensi seni yang berkaitan dan mencerminkan ritual dan keagamaan kepada insan seniman yang ada di Unhi Denpasar. "Pentas budaya serangkaian UBS memang fokus terhadap seni bidang agama religi dan spiritual," katanya.

Wakil Rektor III Unhi Denpasar ini tidak menampik bahwa pementasan berbagai parade budaya yang ditampilkan pada festival UBS terinspirasi dari penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digelar pemerintah Provinsi Bali setiap tahunnya. Ia menilai, selama ini seniman-seniman yang sempat tampil di PKB tidak begitu banyak memiliki ruang berekspresi di ajang resmi pasca pelaksanaan PKB. Sehingga, latihan-latihan yang dijalani dengan sangat keras untuk PKB akan selesai begitu saja setelah PKB berakhir. "Kasian latihannya begitu keras untuk tampil di PKB, tapi setelah PKB berakhir mereka diam saja, tidak ada wadah untuk ditonton lagi oleh masyarakat luas dalam panggung seni yang resmi. Untuk itulah kita berbuat dan berharap bisa terus menjaga semangat dan membina mereka, mereka bisa semakin kreatif,"tandas Muka.

Muka berharap, dari perhelatan UBS mampu berkontribusi bagi insan seni di Bali sebagai wadah mengembangkan dan menjaga eksistensi budaya. Apalagi, hasil dari Sarasehan dan Diskusi dengan tema "UBS Kini dan Nanti" yang dilakukan menghasilkan beberapa beberapa keputusan. Diantaranya, UBS akan tetap dilaksanakan pada tahun 2019 mendatang yang pembiayaannya melibatkan pihak eksternal, seperti pemerintah, perusahaan dan perorangan. Selain itu, konten atau materi UBS selanjutkan mempunyai kekhususan. Salah satunya melakukan rekonstruksi kesenian yang nyaris punah dan lebih terfokus pada seni keagamaan yang mengandung nilai spiritual dan religi.

"Pada tahun ini, Tim Kesenian Fakultas Pendidikan Agama dan Seni yang mewakili Unhi berhasil merebut juara I falam kategori Karnaval Budaya kerjasama I News TV dan Kementerian Periwisata dan festival pesona lokal. Ini menunjukkan bahwa telah ada hasil karya nyata yang telah diberikan oleh penyelenggaraan UBS ini,"tukasnya.

Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerti, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A., mengapresiasi pelaksanaan UBS IX 2018 yang tekah berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan. Menurutnya berbagai potensi yang dihasilkan dari UBS nantinya agar bisa dilibatkan dalam PKB tahun depan. Sebab, UBS cukup memberi nuansa baru dalam pengembangan dalam meningkatkan skill seniman.

Keterlibatan seniman hasil UBS diharapkan menjadi motivasi seniman lainnya serta mendukung program-program pemerintah dalam melestarikan seni dan budaya.

"Dalam UBS kami tekankan persoalan spiritual dan religi, tidak hanya seni kontemporer. Unhi mempunyai peran penting sebagai motor penggerak pendidikan karakter. Konsep tersebut akan memberi nuansa baru dalam kancah seni dan kontemporer,"pungkas Prof. Ardhana.