background

BERITA

Datangkan ASAFAS Kyoto University, Unhi Gelar Workshop Internasional


Image

BERKOLABORASI dengan Asian and African Area Studies (ASAFAS), Kyoto University, Jepang, Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar menggelar Seminar Internasional dengan tema "Comparative Studi On Religious Practice, Popular Culture, Relatives and Social Groups In Hindu Sphere" di Ruang Sidang Rektorat Unhi Denpasar, Senin (25/2).

Seminar Internasional "Studi Banding tentang Praktek Agama, Budaya Populer, Kerabat dan Kelompok Sosial di Lingkup Hindu" ini menghadirkan sejumlah keynote speaker. Diantaranya Ketua Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, MA., Dr. I Nyoman Wardi, MA. (Universitas Udayana), W.A. Sindhu Gitananda (Unhi Denpasar), Prof. Dr. Yekti Maunati (P2SDR-LIPI, Jakarta), Seiko Tsuruta (Global Area Studies, ASAFAS, Kyoto University), Made Adi Widyatmika, ST.,MSi. (Unhi Denpasar), Mai Kato (Southeast Asian Area Studies, ASAFAS, Kyoto University), Dr. Kaoru Nishijima (Kyoto University), Dr. Dundin Zaenuddin, MA. (Indonesian Institute of Sciences, LIPI-Jakarta), dan Mari Adachi (Global Area Studies, ASAFAS, Kyoto University).

Ketua Panitia, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, MA., bersama Mari Adachi, Seiko Tsuruta (Global Area Studies, ASAFAS, Kyoto University), mengatakan masyarakat Indonesia adalah masyarakat multikultural yang dapat ditelusuri kembali melalui sejarah Indonesia dan proses migrasi. Karena merupakan masyarakat multikultural, umat Islam, yang merupakan mayoritas dalam hal agama, memprioritaskan kerukunan dan keseimbangan di antara orang Indonesia. Dalam nada yang sama, orang Bali yang sebagian besar adalah orang Hindu, juga memiliki kelompok etnis sebagai akibat dari peningkatan pengembangan industri pariwisata yang telah dipromosikan oleh pemerintah untuk waktu yang lama.
Sebagai dampak positif, kebijakan pengembangan industri pariwisata telah mengarah pada peningkatan kesejahteraan bagi orang Bali lokal.

Dengan meningkatnya kemakmuran orang-orang yang tinggal di Bali, maka banyak tempat tinggal baru telah dibuka, seperti di daerah dekat tujuan wisata, termasuk Legian, Seminyak, dan tempat-tempat lain di dekatnya. Hal ini tentu mempengaruhi gaya hidup mereka yang tinggal di daerah ini. Meskipun Bali telah banyak dipengaruhi oleh budaya asing, namun budaya dan tradisi lokal masih ada.

"Pendatang baru harus memahami dan menghargai budaya lokal Bai yang dikenal sebagai Ajeg Bali. Untuk melestarikan Ajeg Bali, Bali perlu berusaha menghindari dampak negatif yang dapat merusak budayanya. Melalui seminar inilah kita ingin membedah permasalahan krusial yang terjadi di Bali saat ini. Sehingga konsep tentang bagaimana Ajeg Bali harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dengan kelompok etnis dan agama lain, perlu dipertahankan dan dilestarikan dengan cara yang terorganisir dengan baik,"tandas Prof. Ardhana, Senin (25/2) kemarin.

Rektor Unhi Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, MS., mengatakan sebagai universitas yang memiliki visi sebagai pusat pengembangan dan kajian budaya Hindu di tingkat regional, Unhi Denpasar berkomitmen untuk terus memajukan budaya sesuai dengan perkembangan zaman yang tidak lepas dari taksu budaya Bali. Oleh karena itu, sebagai pimpinan Unhi Denpasar, pihaknya akan terus menjalin kerjasama dalam bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan berbagai perguruan tinggi internasional. Bahkan, Unhi Denpasar membuka diri kepada universitas internasional yang ingin belajar tentang budaya Hindu. Hal ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mencapai visi Unhi Denpasar dan sebagai upaya pengembangan dan kemajuan budaya Bali dan budaya Indonesia pada umumnya.

"Kami Unhi Denpasar satu-satunya Universitas berbasis budaya Hindu. Sehingga, banyak Universitas luar negeri, termasuk Kyoto University Jepang ingin belajar banyak tentang budaya Hindu di kampus kami. Sebab, Budaya Hindu Bali sangat kaya akan nilai-nilai, baik bidang kesehatan, bidang politik dan demokrasi dan sebagainya yang menjadi dasar untuk tata kehidupan,"tandas Prof. Damriyasa.

Seminar Internasional ini diharapkan dapat membangun dan memunculkan ide-ide baru untuk pengembangan budaya secara masif sesuai dengan perkambangan zaman, tanpa meninggalkan roh dari budaya masing-masing. HM