background

BERITA

FIAK UNHI Gelar Seminar Internasional Tolerance and Religious Pluralism in Southeast Asia


Image

REKTOR Universitas Hindu Indonesa (Unhi) Denpasar Prof Dr drh Made Damriyasa menginginkan jadi pusat kajian antar-umat beragama dan antarbudaya. "Kami tidak hanya mempelajari konsep ke-Hinduan, tetapi juga membandingkan dengan konsep agama dan budaya lain. Oleh karena itu, Unhi ke depan tentu ingin menjadi pusat kajian antar-umat beragama dan antarbudaya, dan sekaligus menjadi universitas yang modern," kata Prof Damriyasa usai membuka seminar internasional, di Denpasar, Selasa.

Sejalan dengan hal tersebut, pihaknya sengaja menggelar berbagai kegiatan ilmiah yang mengangkat mengenai isu-isu keragaman agama dan budaya, baik yang berskala lokal hingga internasional.

"Tema yang diangkat dalam seminar ini merupakan isu  menarik, penting dan sedang tren terkait keragaman agama, budaya, di tingkat Asia Tenggara dan ini juga penting bagi Indonesia yang memiliki keragaman adat, budaya dan agama," ucap Prof Damriyasa pada "International Seminar Tolerance and Religious Pluralism in Southeast Asia" itu.

Kedepannya, pihaknya juga akan rutin mengundang narasumber untuk mendiskusikan isu-isu tersebut, mengirimkan dosen-dosen Unhi untuk belajar hal itu ke daerah lain, selain dengan meluncurkan jurnal internasional.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi Denpasar Drs Putu Sarjana MSi mengatakan bahwa sesungguhnya nilai-nilai toleransi dalam masyarakat Bali telah dipraktikkan jauh ketika awal Agama Hindu mulai dikenal.

Bahkan, dalam keseharian masyarakat Hindu-Bali sudah tercermin dengan melaksanakan "Tri Sandhya" yang sesungguhnya menjadi bagian untuk menjaga nilai keharmonisan dan toleransi. Di samping yang perlu dilakukan dengan mengamalkan konsep Tri Kaya Parisudha (berpikir, berkata dan berbuat yang baik dan benar).

"Kalau nilai-nilai Tri Kaya Parisudha sudah semua diikuti, maka tidak akan ada lagi penderitaan yang disebabkan oleh individu lainnya," kata Sarjana.

Dengan mengundang sejumlah intelektual dari India dan Filipina dalam seminar tersebut, diharapkan dapat lebih diketahui kultur toleransi di kedua negara itu untuk dijadikan perbandingan.

"Kami harapkan dari seminar ini, dapat dihasilkan rumusan yang bermanfaat bagi kalangan akademis, khususnya terkait dengan nilai-nilai toleransi dan harmoni yang dapat diapresiasi dunia," ujar Sarjana.

Dalam seminar itu juga hadir Restu Gunawan yang menjadi "keynote speaker" mewakili Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Para pemateri dalam seminar itu yakni Manohar Puri (The Director of Swami Vivekananda Indian Culture Center), Emmanuel F Calairo PhD (De La Salle University Dasmarinas, Filipina), dan Darlene Machell de Leon Espena PhD (Singapore Management University).

Sementara para pembicara dari Indonesia yakni Dr Jajat Burhanudin, Dr Didi Kwartanada, I Gusti Ngurah Aryana, Dr I Nyoman Subrata, Dr I Wayan Tagel Eddy, dan Dr I Dewa Ketut Budiana. HM