background

BERITA

Mukernas IKAMAHI I


Image

Ratusan Alumni UNHI se-Indonesia Ikuti Mukernas I

 

UNIVERSITAS Hindu Indonesia (Unhi) sukses menggelar Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Ikatan Alumni Mahasiswa Unhi (IKAMAHI) perdana pada Sabtu (21/9) di Aula kampus Unhi, Denpasar. Sejumlah keputusan strategis pun ditelurkan dari pertemuan yang dihadiri ratusan alumni se-antero Nusantara, terutama Wakil Bupati Karangasem I Wayan Artha Dipa yang terpilih menjabat Ketua IKAMAHI periode 2019-2023.

Menariknya, Mukernas I ini menghadirkan empat ‘keynote speaker’ I Gusti Agung Putri Astrid Kartia (Anggota Komisi VIII DPR RI), IB K. Susena , S.Kom (Ketua Puskor Hindunesia) dan dua Senator RI Perwakilan Bali Gede Pasek Suardika dan Arya Wedakarna. Keempat ‘keynote speaker’ diberi kesempatan menyampaikan pandangannya terhadap dinamika Hindu.

Putri Astrid, pada kesempatan itu, menyoroti kecilnya anggaran yang dikucurkan pemerintah untuk Bimas Hindu yakni sekitar Rp750 Miliar. Ia mengeluhkan besaran anggaran keagamaan berorientasi pada kuantitas, bukan kualitas. “Seharusnya dana untuk Bimas Hindu bisa ditingkatkan lagi. Memang kuantitas (jumlah) penganut Hindu sedikit, tapi kualitasnya terbukti bagi pembangunan bangsa ini,” keluhnya, sembari berjanji tetap memperjuangkan peningkatan dana umat Hindu.

Gede Pasek Suardika mengaku prihatin terhadap pola penyaluran hibah para pejabat yang menyasar pura dan bangunan bersejarah lain. “Jangan bangga menghadiri peresmian pura yang baru selesai dibangun, padalah sebelumnya bagunannya mengandung nilai historis. Hal ini berpotensi menghilangkan peradaban, jika  peradaban sudah hilang, maka manusianya juga menyusul,” tegasnya.

Sedangkan Arya Wedakarna lebih mengajak umat Sedharma meningkatkan kualitas SDM dalam mengarungi persaingan kehidupan. Peningkatan kualitas, menurut dia, juga mesti diimbangi perkembangan populasi umat Hindu dengan anjuran ‘KB Bali Empat Anak’, seperti yang ia dengungkan jauh sebelum Gubernur Koster menelurkan instruksi ‘KB Bali’.

Ketua Panitia Mukernas, I Kadek Satria, S.Ag., M.Pd.H., memaparkan, IKAMAHI terbentuk tahun 2013 silam oleh sejumlah mantan Ketua BEM Unhi lengkap dengan ADATR-nya. Tujuannya untuk mewadahi pemikiran para almuni, selanjutnya menjadi stakeholder Unhi dan bagian Catur Civitas Akademika Unhi. Satria berharap Pascamukernas terbentuk kepengurusan baru.

Peran alumni menurut Satria sangat strategis bagi lembaga pendidikan, di antaranya membantu mutu dan pengembangan pendidikan, memengaruhi opini publik, menjadi role model (inspirasi) bagi mahasiswa, menjadi jejaring lembaga dan punya kaitannya terhadap akademik, khususnya saat akreditasi. Karena kualitas alumni berpengaruh oada nilai akreditasi suatu perguruan tinggi.

Ia memberi contoh ikatan alumni perguruan tinggi lain yang sangat kompak dan mampu berbuat lebih bagi umat manusia, slaah satunya menggali dana untuk beasiswa bagi mahasiswa kurang mampu. "Kami juga berharap IKAMAHI mampu seperti itu, apalagi Unhi akan membuka gerakan orangtua mahasiswa asuh," kata padharma wacana berprestasi nasional ini.

Sementara Rektor Unhi yang diwakili Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Dr. I Wayan Muka, ST., MT., membeberkan keberadaan Unhi semakin eksis di masyarakat. Salah satu indikatornya adalah peringkat Unhi di tingkat nasional. Almuni Unhi (sejak berstatus IHD) memang terbukti mengisi beberapa posisi penting di pemerintahan pusat, daerah, dosen dan wirausaha, sehingga menjadi salah satu penilalian di Dikti. “Peringkat Unhi berdasarkan data Dikti di posisi 332 (2018) dan tahun 2019 merangkak naik ke peringkat 298 dari 4.300 lebih perguruan tinggi,” bebernya.

Muka tak menampik, alumni sangat berpengaruh pada prestasi dan eksistensi Unhi. Karenanya pihak rektorat selalu membuka diri dan siap memfasilitasi apa pun kegiatan yang dirancang. “Bapak Bangsa kita mengatakan Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Tapi kita tambahkan Jas Kuning, jangan sekali-kali kutinggalkan (almamatermu),” pungkas Muka. HM