background

BERITA

Peserta dari 8 Negara Asia Tenggara Deklarasi Pengobatan Tradisional di UNHI


Image

REKTOR Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S., akhirnya secara resmi meresmikan Griya Sehat Ayurweda Unhi Denpasar, Jumat (30/11) lalu. Peresmian dihadiri langsung oleh Menteri Ayurveda, Yoga, and Homoepathy (AYUSH) India, H.E. Shri Shripad Y. Naik, dan para seluruh akademisi Unhi Denpasar.

Griya Sehat Ayurweda Unhi Denpasar ini akan menjadi pilihan alternatif masyarakat Bali dan dunia untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tradisional. Sebab, Griya Sehat Ayurweda ini mengkombinasikan pengobatan Ayurweda dengan Usada Bali dengan beberapa jenis pengobatan.

Rektor Unhi Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S., mengatakan fasilitas Griya Sehat Ayurweda sepenuhnya didukung oleh ICCS India dan kurikulum yang ada merupakan kombinasi Ayurveda dan Usada Bali. Griya Sehat Ayurweda ini memiliki dua fungsi. Selain sebagai Griya Sehat juga tempat pendidikan dikaitkan dengan program studi kesehatan tradisional yang satu-satunya dimiliki Unhi Denpasar, yakni program studi Ayurveda. "Saya kira satu-satunya program studi kesehatan tradisional di Indonesia yang dilengkapi dengan fasilitas hampir sama dengan rumah sakit pendidikan adalah di Unhi Denpasar,"ujar Prof. Damriyasa.

Sebagai catatan, Prof. Damriyasa mengatakan bahwa pengobatan di Griya Sehat Ayurweda bersifat tradisional, sehingga metode pengobatannya berbeda dengan rumah sakit modern dengan obat medis. Sehingga lebih banyak ke penyakit psikis. "Intinya, kami ingin menghidupkan sistem pengobatan tradisional yang lebih banyak menggunakan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang sifatnya untuk mencegah dan memberikan kekebalan tubuh agar masyarakat tidak mudah sakit,"tandasnya.

Peresmian Griya Sehat Ayurweda dirangkai dengan Seminar Internasional yang mengangkat tema "International Conference on Ayurveda and Traditional Healthcare in Southeast Asia: An ASEAN Umbrella of Shared Heritage". Seminar Internasional yang mengangkat tentang pengobatan tradisional dan baru pertama kali diadakan di Bali ini menghadirkan 24 narasumber dan melibatkan 150 peserta dari 8 negara di dunia. Kegiatan seminar internasional ini berlangsung selama 2 hari, yaitu 30 Nopember - 1 Desember 2018.

Selain itu, para peserta seminar juga melakukan penandatanganan "Bali Declaration on Ayurveda and Traditional Healthcare" Sabtu (1/12) lalu. Dimana deklarasi yang ditandatangani 24 peserta dari 8 negara se-Asia Tenggara tersebut, salah satunya menyatakan bahwa, Sistem pengobatan tradisional yang memiliki pendekatan holistik menawarkan manfaat yang lebih baik, efektif dan jangka panjang yang juga tanpa efek samping.

Prof. Damriyasa mengatakan, deklarasi ini untuk menyatakan kesepakatan untuk mengembangkan pengobatan tradisional sebagai salah satu penanganan kesehatan. Di samping juga untuk mengingatkan masyarakat terkait pengobatan tradisional yang dilakukan oleh para leluhur. Dimana, sebenarnya pengobatan tradisional itu mengambil konsep pengobatan tradisional.

Dalam kesempatan tersebut, dijelaskan alasan pihaknya mengembangkan pengobatan tradisional di Bali karena di negara-negara maju ketersediaan tumbuh-tumbuhan bahan obat itu terbatas. Namun, di Bali sendiri, tidak hanya kaya dengan sumber daya alam bahan-bahan obat tradisional, melainkan juga kaya ilmu pengetahuan. Bali banyak memiliki lontar-lontar usada yang perlu digali dan kembangkan. Tentunya dalam hal tersebut, universitas mempunyai tugas untuk mengali, mengembangkan, dan mengkaji secara ilmiah. "Inilah peran utama kami di Universitas Hindu Indonesia. Oleh karena itu, kami selalu konsen dan menjadi unggulan kami adalah program studi atau fakultas Aryurveda yang berbasis usada Bali,"pungkasnya. HM