background

BERITA

Sarasehan Budaya, Pascasarjana Hadirkan Pembicara Lokal dan Internasional


Image

SASTRA Hindu memiliki sumbangsih yang besar terhadap peradaban bangsa Indonesia. Sejak masa klasik, Mahabarata (Asta Dasa Parwa), Ramayana, dan sastra lainnya telah memicu lahirnya kebudayaan yang lebih besar dan fundamental. Untuk itu, literasi sastra Hindu hendaknya dapat terus digalakkan.

“Bangsa ini berperadaban karena sastra Hindu. Dari zaman Diah Balitung (Mataram Kuno), ketika Ramayana diciptakan tahun 1048 silam, (dan) menjadi sastra terpanjang dan tertua di Nusantara,” ungkap pengamat budaya, I Wayan Westa dalam Sarasehan Srawung Seni Sastra Hindu ke-2 yang diselenggarakan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia (PPs-Unhi) di Auditorium Pps Unhi, Jumat (20/10).

Ramayana menjadi kanal peradaban di Bumi Nusantara yang bertahan hingga saat ini. Dari Adikawya Ramayana kemudian terlahir karya-karya sastra lain dalam berbagai bentuk transformasi, seperti geguritan, kidung, dan sebagainya. Menurutnya, lebih dari 1000 tahun lalu, Raja Dharmawangsa Teguh telah dengan sadar melakukan politik literasi di Nusantara, yakni melalaui “mega proyek” membahasa-Jawa-kan ajaran Bhagawan Byasa.

“Dari proyek itu, kini tertinggal 9 parwa, dari Adi Parwa hingga Bhisma Parwa. Inilah yang sampai ke kita hari ini. Tanpa Ramayana, tanpa proyek Dharma Wangsa tegguh, apa artinya Bali dan Hindu Nusantara hari ini?” jelasnya dalam kegiatan yang digelar sebagai peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa 2018 itu.

Namun, saat ini, ia menilai ada kesenjangan yang tengah dihadapi masyarakat Nusantara sebagai pewaris peradaban itu. Generasi muda, yang konon merupakan pemegang masa depan bangsa memiliki kesulitan menemukan “bangunan” peradaban Hindu Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan dimana harus belajar ajaran Hindu Indonesia atau Hindu Bali tampak belum terjawab hingga saat ini. Pelaku kebudayaan pun terkesan linglung di tengah gempuran berbagai paham yang masuk.

Untuk menjawab tantangan itu, gerakan literasi sastra Hindu sebagaimana yang digagas Raja Dharmawangsa Teguh hendaknya digiatkan. Pelajar hingga mahasiswa hendaknya diperkenalkan kembali pada bangunan-bangunan yang telah lama dilupakan. Perlu adanya inovasi yang bisa mentransformasikan nilai yang ada dalam sastra Nusantara dalam bentuk yang lebih kekinian, sehingga lebih mudah dikonsumsi kaum milenial.

“Jika bahasanya kita tidak mengerti, bagaimana mempelajari ajaran itu? Persoalan lain, jika bahasanya sudah bisa, tapi aksaranya kita tidak mengerti, kita juga tidak sampai pada first knowledge dari sumber ajaran itu. Syukur ada terjemahan, jadi kita masih bisa belajar dari terjemahan,” ujarnya.

Sementara, Ketua Panitia Sarasehan Dr. I Wayan Budi Utama, M.Si., menjelaskan, sarasehan itu adalah wujud nyata pihaknya melestarikan nilai budaya Bali, termasuk mendukung Pergub Bali Tentang Penguatan Aksara dan Busana Bali yang telah diberlakukan awal Oktober lalu.

“Sarasehan pertama (2017) temanya sastra daerah. Kemudian saat ini kami kembangkan untuk mengkaji hubungan sastra Bali dengan arsitektur. Karena kita sadari arsitektur Bali makin tergerus,” ungkapnya.

Mneurutnya, untuk membangun Bali dan Indonesia ke depan, sudah saatnya pemegang kebijakan kembali menengok warisan-warisan leluhur terdahulu. Ia meyakini pengkajian, pemahaman, dan penerapan sastra-sastra Nusantara dapat menjawab tantangan-tantangan ke depan. “Nanti hasil sarasehan akan kami publikasi, dan kami berharap ada perhatian dari pemerintah terkait apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus disesuaikan,” pungkasnya.

Beberapa tokoh turut berbicara dalam kegiatan yang diikuti puluhan orang itu, diantaranya Ketut Arini (maestro tari Bali), I Gede Agus Darma Putra (sastrawan Bali Modern penerima Penghargaan Sastra Rancage 2018), Prof. Dr. Sulistyawati (Guru Besar Emiritus Jurusan Arsitektur Unud), Dr. Dustin D. Wiebe, Ph. D (University of Manitoba, Canada),dan Diane Buttler (kajian budaya Unud). HM