background

BERITA

UNHI Gelar Seminar Internasional "Religious Pluralism in Southeast Asia”


Image
SEBAGAI lembaga pendidikan tinggi yang konsen terhadap agama dan kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar kembali menggelar "2nd International Seminar On Interreligious and Intercuktural Studies" dengan tema "Tolerance and Religious Pluralism in Southeast Asia" di Gedung Rektorat Unhi Denpasar, Kamis (7/12) kemarin. Seminar Internasional dibuka langsung oleh Asisten II Gubernur Provinsi Bali, I Dewa Putu Sunartha, S.E.,M.Si.
Seminar Internasional ini menghadirkan 4 narasumber dari berbagai negara. Diantaranya, Prof. Volker Gottowik dari University of Frankfurt-Jerman, Peof. Goh Beng Lan dari University of Singapore, Prof. Montri Kunphoommarl dari Naresuan University, Muang Phitsanulok-Thailand, dan Prof. I Ketut Ardhana dari Yayasan Pendidikan Widya Kerthi yang dimoderatori Prof. Yekti Maunati.
Wakil Rektor II Unhi Denpasar, Dr. I Gede Putu Kawiana, S.E.,M.M., mengatakan pluralisme atau keberagaman menjadi salah satu isu sentral yang saat ini dibicarakan oleh beberapa negara di dunia, terutama Bangsa Indonesia. Mengingat Indonesia merupakan negara yang majemuk yang terdiri dari beragam -agama, suku, budaya, dan ras. 
Oleh karena itu, narasumber yang dihadirkan diharapkan mampu memberikan pencerahan maupun sharing kepada peserta tentang bagaimana cara menjaga dan merawat keberagaman untuk bisa dijadikan sebuah persatuan menuju kehidupan yang harmonid. Apalagi pada prinsipnya perbedaan merupakan sebuah anugerah yang harus dibina, sehingga ke depannya tidak lagi menjadi persoalan yang dapat menghancurkan keharmonisan. "Saya kiri Unhi sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan agama dan budaya menjadi tempat yang tepat untuk mengkajinya. Apalagi, kami secara konsisten mengadakan seminar semacam ini,"tandas Kawiana, Kamis (6/12) kemarin.
Asisten Deputi II Kemenkopolhukam RI, Drs. Kusnaidi mengatakan keberagaman merupakan ciri khas bangsa Indonesia yang multikultur dan multietnis yang telah sejak lama disadari oleh bangsa Indonesia. Realitas keberagaman inipun dapat bertahan hingga saat ini karena disebabkan adanya pemahaman untuk tidak mempertentangkan disparitas antara yang satu dengan yang lain. Bahkan, perbedaan tersebut diterima sebagai suatu kewajaran dan yang paling utama adalah menyerasikan perbedaan menjadi satu kesatuan, satu tujuan, satu tindakan menuju cita-cita bersama.
Kendati demikian, ke depannya masih perlu dilakukan instrospeksi untuk merawat kerukunan yang sudah terjalin dan dialog antar-umat beragama harus terus dijaga dari hati-hati. Apalagi, berdasarkan survei Kementerian Agama, dikatakan Bali menjadi satu dari empat provinsi di Tanah Air yang nilai Indeks Kerukunan Umat Beragamanya tertinggi di Indonesia. Tiga provinsi lainnya, yakni NTT, Papua, dan Sulawesi Utara. Adapun tiga unsur penilaian dalam Indeks Kerukunan Umat Beragama yakni mencakup toleransi, kesetaraan, dan kerja sama.
Pihaknya mendorong peran serta masyarakat Bali untuk terus memupuk dan menggelorakan semangat kebangsaan dalam menjaga keutuhan. "Mudah-mudahan melalui acara yang sangat penting ini, kita dapat menarik manfaat dan esensi yang berharga, sehingga dapat digunakan sebagai masukan guna menjaga dan merawat kerukunan bangsa,"ujarnya.
Sekretaris Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Kol. (Purn) Dr. Drs. Dewa Ketut Budiana, M.Fil.H., sangat mendukung kegiatan seminar seperti itu karena dapat digunakan para dosen untuk mengkaji kerukunan melalui karya-karya ilmiahnya. "Kami tidak mengharapkan adanya kekerasan di Unhi, tetapi hendaknya jadi Purohitanya untuk umat Hindu di Nusantara,"harapnya. HM