background

BERITA

KBRC UNHI Akan Jadikan Desa Les Sebagai Percontohan


Image

Menangkap konsep Gubernur Koster yakni Ekonomi Kerthi Bali, Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar bertindak cepat dengan membentuk Ekonomi Kerthi Bali Research Centre (KBRC).  Terbentuk sejak akhir tahun 2021 lalu, Tim Ekonomi Kerthi Bali Research Centre melihat konsep tersebut masih awal, sehingga tim yang di pimpin I Putu Fery Karyada, S.Pd.,M.A akan melakukan kajian baik secara teoritis maupun implementatif.  Selain mengkaji Ekonomi Kerthi Bali, tim ini juga mengimplementasikannya di masyarakat.

Salah satu implementasi KBRC UNHI adalah melakukan kunjungan ke lapangan untuk menggali aktivitas sub sector yang ada di Ekonomi Kerthi Bali, salah satunya melihat sub sector pariwisata. Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng dipilih sebagai desa percontohan. Di Buleleng bagian timur tersebut di lihat, apakah aktivitas ekonomi masyarakat Desa Les sudah mendekati Ekonomi Kerthi Bali yang basisnya memiliki kearifan lokal, bersifat suistanable (berkelanjutan), dan mendukung potensi-potensi yang ada di lokal Desa Les.

Tim Ekonomi Kerthi Bali Research Centre (KBRC) UNHI, bersama perangkat Desa Les, Dinas Pariwisata Provinsi Bali serta kelompok ahli bidang pariwisata pemerintah Provinsi Bali juga sudah melihat langsung potensi yang ada di Desa Les, selasa (29/3). Ketua KBRC UNHI, I Putu Fery Karyada mengatakan potensi yang dimiliki sangat banyak, tentunya potensi yang dimiliki masih bersifat Genuine (murni). Dalam artian masyarakatnya sendiri yang masih mengelola aktivitas perekonomian, belum tersentuh aktivitas investor didalamnya. Dengan demikian, menurut Fery, kegiatan ekonomi di Desa Les kemungkinan akan dijadikan percontohan karena sesuai dengan konsep ekonomi Kerthi Bali di bidang pariwisata. Salah satu yang terkenal adalah terumbu karang. Petani atau nelayan didesa setempat sangat peduli dengan lingkungan, tidak hanya mengeksploitasi lingkungannya, tetapi menanam kembali dengan membuat inovasi terkait budi daya terumbu karang.

“Itu luar biasa sekali, sangat terkenal, dan salah satu aktivitas yang mencirikan ekonomi Kerthi Bali, yaitu tidak merusak alam, namun lebih kepada menghargai kekayaan yang ada didesa tersebut. Jadi konsep yang ada di Desa Les menurut saya bukan MICE Tourism, tetapi Quality Tourism, dan sudah mengarah kesana. Sekarang tinggal mendata kembali apa saja yang kurang selama ini dan kita akan mulai dampingi dengan membuatkan program terkait permasalahan apa yang dihadapi selama ini, dengan jangka panjang yakni tiga tahun yang ujungnya nanti adalah Desa Les menjadi percontohan aktivitas ekonomi Kerthi Bali di sub sector pariwisata,” jelas Fery.

“Berbicara Desa Les sesungguhnya desa yang biasa-biasa saja, namun ada keistimewaan yang mendalam daripada sekedar secara visual yang indah. Desa ini memiliki masyarakat yang istimewa, dan masyarakat itu menjadi modal sebetulnya dalam menjadikan perubahan yang positif kurang lebih selama 20 tahun. Artinya Desa Les tersebut bukan desa kemarin sore yang dikembangkan untuk menjadi terkenal, ini nggak! ini adalah proses dua puluh tahun yang artinya konsistensi Desa Les untuk mempertahankan keistimewaan mereka khususnya dalam hal konservasi dan pariwisata berkelanjutan itu sudah terbukti,” ujar Dr. (H.C) Cipto Aji Gunawan selaku kelompok ahli bidang pariwisata Pemprov Bali saat ditemui seusai kegiatan.

Cipto menambahkan, Desa Les masuk ke dunia pariwisata sejak tahun 2012 dan ketika masyarakat setempat sadar dengan pariwisata konservasi, maka hingga saat ini Desa Les sudah terkenal dan bahkan sudah menjalin kerjasama dengan berbagai institusi internasional. Terkait Quality Tourism atau pariwisata berkualitas, menurut Cipto pariwisata tersebut salah satu masalahnya adalah masyarakatnya terkadang terbawa dengan kesenangan berkelanjutan sehingga melupakan nilai esensi dari pariwisata itu sendiri.

“Kita ingin membangun pariwisata berkualitas disini. Jangan dibawa ke hal-hal lain yang berpotensi mencederai pariwisata itu sendiri,” imbuhnya seraya menambahkan pemikiran tersebut sangat selaras dengan program Gubernur Koster, yakni pariwisata kedepan bukan pariwisata yang hura-hura dengan mendatangkan wisatawan sebanyak-banyaknya tanpa control yang akhirnya merugikan baik dari sisi lingkungan maupun dari sisi budaya.

Sementara itu Perbekel Desa Les, Gede Adi Wistara, SH menyatakan terima kasihnya atas perhatian Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar melalui Tim Ekonomi Kerthi Bali Research Centre, kelompok ahli bidang pariwisata, serta Dinas Pariwisata Pemprov Bali dan memohon agar potensi Desa Les lebih dikembangkan serta diberikan perhatian agar masyarakat Desa Les kedepannya bisa mendapat manfaat dan kesejahteraan desa serta tercapainya program pemerintah Provinsi Bali.

Adi membeberkan banyak potensi yang ada di Desa Les. Sebagian besar UMKM dan potensi alam yakni kelautan atau bahari, selain itu juga pengelolaan hutan desa, air terjun, kelompok tani seperti petani garam tradisional, gula juruh atau gula lontar, serta pembuatan minyak kelapa atau minyak tandusan.

“Dari potensi yang kami miliki semoga menjadi perhatian dari Pemprov Bali terkait program Ekonomi Kerthi Balinya,” ucapnya sembari berharap terkait pariwisata, pihaknya ingin ketika berkembang tidak akan merusak alam dan potensi yang sudah ada di Desa Les.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti mahasiswa dan akademisi UNHI Denpasar tidak hanya melakukan aktivitas akademiknya dikampus, namun juga turun langsung kelapangan dengan melihat realita dan memberikan kontribusi lebih kepada masyarakat dalam menyelesaikan problematika dan ilmu ini sangat berguna nantinya di UNHI Denpasar. HM