background

BERITA

Pembelajaran Sistem Daring Perlu Evaluasi


Image

SEJAK wabah Covid-19 menyebar di Indonesia awal tahun 2020 lalu berdampak serius pada seluruh sektor kehidupan manusia, tidak terkecuali sektor pendidikan. Lembaga pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sampai pada perguruan tinggi belajar dengan cara daring. Namun pembelajaran daring banyak dikeluhkan oleh orang tua murid. Mereka menganggap pembelajaran daring belum efektif dalam proses belajar mengajar siswa.

Situasi ini menjadi topik diskusi Podcast Unhi ke 13 pada Selasa 3 Agustus lalu. Dialog ini dipandu oleh dosen Prodi Ilmu Filsafat Hindu Universitas Hindu Indonesia, I Gusti Agung Paramita S.Ag, M.Si. Dua narasumber hadir saat itu yakni Prof. Dr. I Ketut Suda, M.Si dan Dr. I Wayan Budi Utama.

Ketika ditanya perihal efektivitas pembelajaran daring, Prof Ketut Suda menyampaikan bahwa belajar daring adalah pilihan paling masuk akal di tengah pandemi agar anak-anak masih bisa belajar. Jika anak-anak dipaksakan belajar luring atau tatap muka dikhawatirkan sekolah-sekolah menjadi klaster penyebaran virus Corona. Maka dari itu, meskipun ada kekurangannya, menurut Prof Suda, tidak ada pilihan lain selain belajar daring.

Prof. Suda menambahkan, soal efektivitas—jangankan belajar daring, dalam pola pembelajaran tatap muka/luring saja masih terdapat kekurangan. Hanya saja, para guru diajak untuk lebih kreatif mengkemas materi ajar secara daring agar diminati oleh siswa dan mudah dipahami.

“Jika guru-guru dan dosen kita tidak kreatif, sering ada keluhan dari orang tua murid bahwa mereka yang kewalahan mengajarkan anak-anak. Bahkan PR pun dikerjakan orang tuanya. Ini menyebabkan ada orang tua yang stress. Bahkan di youtube saya melihat ada orang tua memukul anaknya gara-gara sulit diajari. Mereka, para orang tua, memang tidak punya kemampuan mengajar, sekarang harus mengajar anaknya. Ini salah satu dampak negatif belajar daring,’ bebernya.

Sementara itu, Wayan Budi Utama menyoroti efek sosial dan psikologis anak ketika belajar daring. Dulu anak-anak bisa bermain bersama temannya. Ketika ada persoalan, mereka berinteraksi dengan kawanya. Namun belajar daring tidak memungkinkan itu. Anak-anak hanya didampingi smart phone mereka. Jika orang tua mereka tidak sibuk, mereka bisa mendampingi. Namun ini menyebabkan orang tua memiliki kesibukan baru.

“Namun apa boleh buat, ini pilihan sulit yang harus dijalankan meskipun banyak kekurangan. Daripada mengambil resiko virus menyebar dan terkena anak-anak lebih baik belajar daring diefektifkan dengan catatan perlu ada evaluasi,” papar pengamat masalah sosial dan budaya ini.

Budi Utama juga khawatir, jika pola belajar daring di tingkat anak sekolah dasar sampai menengah pertama terus dilanjutkan—meskipun virus Corona sudah melandai, akan berdampak pada sikap sosial mereka. Bukan tidak mungkin, belajar daring akan melahirkan generasi yang invidualistik dan anti sosial,” paparnya.

Prof. Suda juga menyoroti perhatian pemerintah khususnya terhadap anak-anak yang belajar daring. Diharapkan pemerintah memberikan quota gratis agar anak-anak bisa belajar daring dengan baik. “Di tengah pandemi banyak orang tua yang putus kerja. Ekonomi sangat sulit. Jangankan beli paket internet, untuk makan sehari-hari saja mereka susah. Semoga pemerintah memberi atensi ini agar ada pengadaan internet gratis bagi anak-anak,” cetusnya. HM