background

BERITA

Yayasan Pendidikan Widya Kerthi-Unhi Gelar Workshop Nasional Tentang Candi Prambanan


Image

Workshop Nasional dalam rangkaian perayaan Hari Suci Nyepi dengan tema “Candi Prambanan dan Agama Hindu Nusantara” telah dilaksanakan secara virtual yang dipusatkan di Yogyakarta, Rabu (10/3). Workshop ini digelar kerjasama Yayasan Pendidikan Widya Kerthi sebagai Badan Hukum penyelenggara Pendidikan Tinggi Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar dengan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Direktur Jenderal Bimas Hindu di Yogyakarta.

Workshop Nasional ini mempresentasikan hasil penelitian yang sudah dilaksanakan tahun 2020 dengan mengadakan penelitian lapangan dan diskusi terpumpun di kalangan tokoh adat dan agama Hindu di PHDI Semarang, Jawa Tengah. Kajian tentang Candi Prambanan ini diketuai oleh Prof. Dr. phil. I Ketut Ardhana, M.A., Prof. Dr. Ida Ayu Yadnyawati dan Dr. Dewa Ketut Budiana, M.Fil. Workshop ini menghadirkan 2 orang pembahas, yaitu Core Doctoral UGM, Dr. Dicky Sofjan dan Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Negeri Surakarta, Prof. Dr. Warto.

Rektor Unhi Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S., menyambut kajian yang dilakukan ini sebagai kajian yang nantinya dapat mengembangkan kajian-kajian kolobarasi dan strategis dengan lembaga-lembaga penelitian lainnya untuk mendukung program masyarakat dan pemerintah di bidang keagamaan dan kebudayaan yang dirasakan sangat penting dalam memperkuat kebhinekaan di Nusantara.

Peneliti Prof. Ardhana, yang sekaligus juga sebagai Guru Besar Ilmu Sejarah Asia pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana dan Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerthi menambahkan, bahwa kehadiran sebuah situs arkeologi yang memiliki nilai-nilai adiluhung dan sebagai pedoman masyarakat hendaknya terus dikembangkan dan dapat mengintegrasikan aspek-aspek kehidupan masyarakat secara damai. Kehadiran sebuah warisan budaya pada masa lalu hendaknya tidak menimbulkan riak-riak sosial, dan bahkan konflik sebagaimana yang pernah terjadi antara Thailand dan Kambodja berkaitan dengan keberadaan Preah Temple.

"Kita belajar dari masalah atau lesson learnt dari negara tetangga untuk memahami secara lebih baik dan memperkuat aspek aspek integrative dalam kehidupan masyarakat dan budaya. Persoalan-persoalan ini hendaknya menjadi pelajaran yang berharga dalam memetakan potensi sosial budaya dan ekonomi antara Yogyakarta dan Jawa Tengah menuju pembangunan masyarakat dan budaya Hindu yang damai, harmonis dan berkelanjutan,"ujar Prof. Ardhana.

Ketua Harian PHDI Pusat, Parisada Hindu Dharma Indonesia, Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya, mengatakan kajian yang dilakukan ini sangat penting, mengingat Candi prambanan meninggalkan budaya tangible dan intangible yang sangat bermakna bagi keberlanjutan perkembangan agama Hindu di Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu, pemetaan potensi budaya dalam kaitannya dengan pengembangan peradaban Hindu yang multikultur memerlukan pemetaan tentang situs dan pengembangan kawasan yang dapat mengembangkan pembangunan budaya masyarakat yang berkelanjutan.

Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI, Dr. Tri Handoko Seto, mengatakan hasil kajian ini sangat signifikan dan strategis karena akan disinergikan dengan kajian yang dilakukan terhadap Candi Borobudur yang sudah diwacanakan sebagai sebuah tempat peribadan umat Budha secara internasional, dan demikian juga diharapkan untuk Candi prambanan. Dengan demikian, kedua tinggalan situs, yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan sebagai tinggalan arkeologi monumental ini akan memperkuat konsep kebhinekaan sebagaimana yang terdapat pada konsep “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa” (unity and diversity). HM