background

Ilmu Agama dan Kebudayaan

Profil

Sejarah

                                   Fakultas Ilmu Agama Universitas Hindu Indonesia

Keberadaan fakultas ilmu Agama tidak dapat dipisahkan dari sejarah Universitas Hindu Indonesia Denpasar, yaitu tahap keberadaannya, sebagaimana yang diuraikan berikut ini:

Adanya semangat dengan visi jauh ke depan dalam konteks jamannya serta didorong oleh keinginan luhur dan menyadari kurangnya pembinaan umat Hindu di masa lalu, pada hari Jumat Pahing Wara Sinta, penanggal 9 sasih ke 5 tahun Caka 1883 atau pada tanggal 17 November 1961 para pemuka Agama Hindu di tanah air, terutama di Bali telah mengadakan suatu pertemuan yang disebut “Dharmacrama” bertempat di Campuhan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Dharmacrama yang dihadiri oleh para sulinggih (pendeta) dan para “Walaka” (Pimpinan umat bukan Sulinggih) berlangsung sampai hari Kamis Pon Wara Landep, bertepatan pula dengan hari Purnama Sasih ke-5 atau tanggal 23 November 1961.

Dharmasrama yang diprakarsai oleh Majelis Agama Hindu, Parisada Hindu Dharma (pada saat itu bernama Parisada Hindu Bali) menetapkan beberapa keputusan yang kemudian lebih dikenal dengan nama “Piagam Campuhan Ubud”. Pada bagian A, butir II dari piagam tersebut ditetapkan antara lain “mulai saat ini berhasrat membangun/mengadakan asrama pangadyayan (Perguruan Tinggi Agama) sebagai tempat untuk mempelajari Dharma”.

Butir II Piagam Campuhan Ubud inilah merupakan titik tolak atau tonggak sejarah pendirian Perguruan Tinggi Agama Hindu dengan nama “Maha Widya Bhawana atau Institut Hindu Dharma” (IHD). Cita-cita luhur dari Parisada Hindu Dharma dapat diwujudkan dua tahun kemudian yaitu pada tanggal 3 Oktober 1963, bertepatan pula dengan hari Purnama Kartika (Purnama Sasih ke 4). Pada hari yang bersejarah ini lahirlah Lembaga Pendidikan Tinggi Agama Hindu yang pertama di Bumi Nusantara ini.

Sesuai dengan akta pendirian Institut Hindu Dharma, yaitu Akte No. 77 tertanggal 7 Maret 1964 bertindak sebagai pendiri dari lembaga pendidikan tinggi ini adalah Bapak I Gusti Bagus Oka dan Bapak Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Rektor yang disebut juga Dharmadyaksa untuk pertama kali dipercayakan kepada Bapak dr. Ida Bagus Rai (almarhum), seorang dokter, sastrawan, dan rohaniawan menjabat sejak tanggal 3 Oktober 1963 sampai tahun 1986. Rektor ke dua dipercayakan kepada Bapak dr. Ida Bagus Oka seorang ahli paru-paru yang menjabat dari tahun 1986 sampai tahun 1976.

Karena peraturan tidak mengijinkan, Bapak dr. Ida Bagus Oka digantikan oleh pejabat sementara, yaitu Bapak drs. I Gusti Agung Gede Putra (almarhum). Sejak 6 Juni 1978 atas permintaan Parisada kepada Panglima Daerah Militer XVI/Udayana ditugaskaryakan seorang perwira menengah Kodam XVI/Udayana, Bapak Letkol CPM Prof. Ida Bagus Suanda Wesnawa, SH (almarhum) sampai tahun 1993.

Pada awal berdirinya IHD hanya mengasuh dua fakultas yakni Fakultas Agama dan Kebudayaan serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Biologi. Dibukanya dua fakultas ini sesuai dengan keinginan dan aspirasi yang berkembang ketika itu. Agama dan Kebudayaan merupakan dua aspek yang cukup penting untuk dilestarikan dan dikembangkan untuk nantinya mampu menunjukkan peran sertanya dalam kancah pembangunan nasional. Sementara dibukanya fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, khususnya jurusan Biologi dimaksudkan agar makna kitab Usada (Ilmu Pengobatan Tradisional) semakin tergali dan dapat disebarluaskan di masyarakat.

Dalam perkembangan awal ini juga tergambar animo masyarakat terhadap IHD, pada kenyataannya, secara kuantitatif tidak terdapat jumlah mahasiswa yang terlalu banyak, hanya puluhan, namun hal ini tidak menyebabkan IHD patah semangat dalam kancah pendidikan. Justru terjadi hal yang sebaliknya, dengan jumlah mahasiswa yang puluhan dan ternyata mereka adalah mahasiswa yang sungguh-sungguh ingin belajar tentang Hindu, menyebabkan IHD semakin diharapkan sebagai Lembaga Pendidikan Hindu, yang nantinya dapat melahirkan tenaga-tenaga penyuluh atau tempat bertanya umat di bidang Keagamaan. Kehadiran IHD semakin dirasakan dan dikenal masyarakat luas.

Akhir dasawarsa tujuh puluhan hingga awal delapan puluhan minat masyarakat menuntut ilmu semakin tinggi, hal ini menyebabkan pengelola IHD mulai mempertimbangkan untuk membuka fakultas-fakultas baru atau memodifikasi fakultas yang telah ada. Oleh karena itulah dibuka beberapa fakultas lagi guna menampung berbagai aspirasi yang berkembang di masyarakat. Pada akhirnya IHD mempunyai empat fakultas masing-masing : Fakultas Ilmu Agama, Fakultas Ilmu Pendidikan Agama, Fakultas Hukum Agama, dan Fakultas Sastra dan Filsafat Agama. Dengan empat fakultas ini, IHD semakin dikenal sebagai pengelola Pendidikan Tinggi yang berbasis Agama Hindu. ribuan sarjana Agama Hindu dari berbagai bidang ilmu seperti agama dan kebudayaan, pendidikan agama, hukum agama, sastra dan filsafat agama telah dihasilkan. IHD berhasil melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan sukses, baik dalam bidang pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Namun demikian, setelah 30 tahun IHD berdiri yang merupakan satu-satunya Lembaga Perguruan Tinggi Agama Hindu di Indonesia sampai saat itu belum bisa sepenuhnya menghasilkan para sarjana yang mampu menjawab perubahan-perubahan dan tantangan-tantangan zaman yang sangat pesat pada saat itu. Karena historis secara kelahiran IHD diarahkan untuk menjawab perubahan dan tantangan zaman pada saat itu, dan kelahirannya menitikberatkan kepada pendalaman terhadap ajaran agama. Sehingga para sarjana IHD kalah bersaing dalam pasaran tenaga kerja dengan para sarjana lulusan Perguruan Tinggi lainnya. Hal ini mengakibatkan banyak sarjana IHD menjadi pengangguran. Kenyataan ini selanjutnya membawa dampak semakin berkurangnya minat para lulusan SLTA memasuki IHD. Bahkan nyaris tidak dapat mahasiswa selama tiga tahun (1990-1993) terakhir. Selanjutnya sejalan dengan ditutupnya Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan Pendidikan Guru Agama Hindu (PGAH) maka IHD mengalami penurunan jumlah mahasiswa secara drastis oleh karena SPG dan PGAH adalah dua SLTA yang animonya ke IHD paling tinggi jika melanjutkan ke Perguruan Tinggi.

Hendak disadari bahwa, pengelola Perguruan Tinggi akan menjadi sulit apabila mahasiswa yang dibina sangat minim. Ide untuk mengembangkan diri secara lebih terbuka dan dapat menampung aspirasi yang lebih bervariasi mulai muncul. Dalam konteks nasional pembangunan dilaksanakan di dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Dalam proses ini maka seluruh lapisan masyarakat termasuk umat Hindu harus ikut secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan. Usaha-usaha dalam penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, keterampilan khusus, mutlak diperlukan tentunya tanpa bertentangan dengan nilai-nilai Agama Hindu. Melihat hal itu, dan melihat juga latar belakang berdirinya IHD yang semata-mata didorong keinginan luhur dan kurangnya pembinaan terhadap umat Hindu di masa lalu, sudah sepantasnya dirubah bentuknya menjadi Universitas Hindu yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tantangan-tantangan yang semakin komplek dewasa ini.

Dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 75/D/O/1993 tertanggal 19 Mei 1993 maka secara resmi Universitas Hindu Indonesia (UNHI) berdiri di kota Denpasar. Universitas ini lahir sebagai perubahan bentuk dari Institut Hindu Dharma (IHD), akibat minat para pemuda Hindu untuk masuk menjadi mahasiswa IHD (bidang studi Agama Hindu) semakin lama semakin menurun. Selain itu surat keputusan dari Pemerintah untuk penegerian IHD tidak kunjung datang. Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut dikhawatirkan IHD akan tutup sebagai akibat tiadanya peminat (mahasiswa) yang masuk ke Perguruan Tinggi ini. Oleh karena itu atas inisiatif pengurus Parisada, pengurus Yayasan Pendidikan Widya Kerthi serta beberapa tokoh yang peduli akan Pendidikan Agama Hindu, seperti Bapak Prof. Ida Bagus Mantra (almarhum), Bapak Prof. dr. I Gusti Putu Adnyana (Rektor UNUD saat itu) dan tokoh-tokoh lainnya diubahlah IHD menjadi sebuah Universitas dengan tujuan agar dapat menampung para pemuda yang berminat pada bidang studi non Agama Hindu, terutama bidang studi Ekonomi, Teknik, MIPA, Ilmu Agama di dalam sebuah Universitas.

Sebagai Rektor UNHI ditunjuk Prof. Dr. I Gusti Ngurah Nala, MPH, seorang dokter, ahli usada dan juga rohaniawan menjabat sejak tanggal 3 Juni 1993 sampai 2 Oktober 2001. Dan Rektor berikutnya dipercayakan kepada Prof. Dr. I Gusti Ngurah Gorda, MS. MM, seorang professional, ekonom dan menjabat sejak 2 Oktober 2001 sampai 17 Oktober 2003, selanjutnya sebagai PLH Rektor ditunjuk Drs. Ida Bagus Dharmika, MA (PR I) dan sejak 10 Januari 2004 jabatan Rektor dipercayakan kepada Prof. Dr. Ida Bagus Gunadha, M.Si., sampai 10 Januari 2006, selanjutnya sejak tanggal 10 Januari 2006 jabatan Rektor dipercayakan kepada Prof. Dr. Ida Bagus Gede Yudha Triguna, MS., DR Ida Bagus Dharmika; dan Prof. Damriyasa.

Universitas Hindu Indonesia dengan lima fakultas semakin menunjukkan eksistensinya di dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Adapun fakultas yang bernaung di bawah UNHI adalah : Fakultas Ilmu Agama, Fakultas Ekonomi, Fakultas MIPA, Fakultas Teknik, Fakultas Kesehatan dan Pasca Sarjana.

Fakultas Ilmu Agama saat ini menempati gedung yang beralamat lengkap di :

Jalan                : Sanggalangit

Desa                : Tembau

Kelurahan        : Penatih

Kecamatan      : Denpasar Timur

Kota Madya    : Denpasar

Provinsi           : Bali

Telepon           : 03618625926

 

Program Studi yang ada di Fakultas Ilmu Agama yaitu: 1) Program Stusi Ilmu Filsafat Khusus Agama Hindu, 2) Hukum Agama Hindu.