background

BERITA

Berita Utama


Berita Terbaru

Image
Kamis, 10 Januari 2019
Prodi Ilmu Filsafat Hindu Bahas Konversi Agama

PRODI Ilmu Filsafat Hindu, Fakultas Ilmu Agama, Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar menggelar kuliah umum bertema "Cara Mudah Memahami Hindu dalam Mengantisipasi Konversi Agama", Selasa (8/1/2019) di kampus setempat. Kuliah umum ini dipandu oleh I Gusti Agung Paramita, S.Ag, M.Si. Di hadapan puluhan mahasiswa dan peserta lain, nara sumber Prabhu Dharmayasa mengaku menyayangkan rendahnya minat baca masyarakat, khususnya umat Hindu. Padahal di tengah kemajuan teknologi dewasa ini, sumber bacaan sangat melimpah dan mudah didapatkan. Untuk mengantisipasi konversi (perpindahan agama) terhadap agama Hindu, menurutnya harus dimulai dari lingkup terkecil, yakni diri sendiri. "Minimal kita merubah diri sebagai penjaga dharma, sebelum orang lain yang merubahnya," kata Prabhu. Prabhu melanjutkan, sebagai umat Hindu yang taat, minimal dalam setiap aktivitas senantiasa menyebut nama Tuhan. Ia juga menyentil masih maraknya umat Hindu yang salah dalam melafalkan Mantram Gayatri. Meski pun kesalahan itu bisa diperbaiki. Wakil Rektor I Unhi, Prof. Dr. Putu Gelgel, SH.,MH.,seizin Rektor Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa mengatakan, konversi telah mengalami peningkatan hampir di seluruh wilayah, bukan hanya di Bali. "Mari kita membendung konversi," ajaknya. Pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Ilmu Agama dan Kebudayaan Dr. Putu Sarjana, M.Si., menyebut konversi adalah salah satu bagian dari problem agama. Sarjana berpendapat, kinversi bisa diantisipasi dengan memperkuat keyakinan, agar bisa memahami dengan baik dan memahami proses ritual dengang baik. HM

Image
Jumat, 07 Desember 2018
UNHI Gelar Seminar Internasional "Religious Pluralism in Southeast Asia”

SEBAGAI lembaga pendidikan tinggi yang konsen terhadap agama dan kebudayaan, Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar kembali menggelar "2nd International Seminar On Interreligious and Intercuktural Studies" dengan tema "Tolerance and Religious Pluralism in Southeast Asia" di Gedung Rektorat Unhi Denpasar, Kamis (7/12) kemarin. Seminar Internasional dibuka langsung oleh Asisten II Gubernur Provinsi Bali, I Dewa Putu Sunartha, S.E.,M.Si. Seminar Internasional ini menghadirkan 4 narasumber dari berbagai negara. Diantaranya, Prof. Volker Gottowik dari University of Frankfurt-Jerman, Peof. Goh Beng Lan dari University of Singapore, Prof. Montri Kunphoommarl dari Naresuan University, Muang Phitsanulok-Thailand, dan Prof. I Ketut Ardhana dari Yayasan Pendidikan Widya Kerthi yang dimoderatori Prof. Yekti Maunati. Wakil Rektor II Unhi Denpasar, Dr. I Gede Putu Kawiana, S.E.,M.M., mengatakan pluralisme atau keberagaman menjadi salah satu isu sentral yang saat ini dibicarakan oleh beberapa negara di dunia, terutama Bangsa Indonesia. Mengingat Indonesia merupakan negara yang majemuk yang terdiri dari beragam -agama, suku, budaya, dan ras. Oleh karena itu, narasumber yang dihadirkan diharapkan mampu memberikan pencerahan maupun sharing kepada peserta tentang bagaimana cara menjaga dan merawat keberagaman untuk bisa dijadikan sebuah persatuan menuju kehidupan yang harmonid. Apalagi pada prinsipnya perbedaan merupakan sebuah anugerah yang harus dibina, sehingga ke depannya tidak lagi menjadi persoalan yang dapat menghancurkan keharmonisan. "Saya kiri Unhi sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan agama dan budaya menjadi tempat yang tepat untuk mengkajinya. Apalagi, kami secara konsisten mengadakan seminar semacam ini,"tandas Kawiana, Kamis (6/12) kemarin. Asisten Deputi II Kemenkopolhukam RI, Drs. Kusnaidi mengatakan keberagaman merupakan ciri khas bangsa Indonesia yang multikultur dan multietnis yang telah sejak lama disadari oleh bangsa Indonesia. Realitas keberagaman inipun dapat bertahan hingga saat ini karena disebabkan adanya pemahaman untuk tidak mempertentangkan disparitas antara yang satu dengan yang lain. Bahkan, perbedaan tersebut diterima sebagai suatu kewajaran dan yang paling utama adalah menyerasikan perbedaan menjadi satu kesatuan, satu tujuan, satu tindakan menuju cita-cita bersama. Kendati demikian, ke depannya masih perlu dilakukan instrospeksi untuk merawat kerukunan yang sudah terjalin dan dialog antar-umat beragama harus terus dijaga dari hati-hati. Apalagi, berdasarkan survei Kementerian Agama, dikatakan Bali menjadi satu dari empat provinsi di Tanah Air yang nilai Indeks Kerukunan Umat Beragamanya tertinggi di Indonesia. Tiga provinsi lainnya, yakni NTT, Papua, dan Sulawesi Utara. Adapun tiga unsur penilaian dalam Indeks Kerukunan Umat Beragama yakni mencakup toleransi, kesetaraan, dan kerja sama. Pihaknya mendorong peran serta masyarakat Bali untuk terus memupuk dan menggelorakan semangat kebangsaan dalam menjaga keutuhan. "Mudah-mudahan melalui acara yang sangat penting ini, kita dapat menarik manfaat dan esensi yang berharga, sehingga dapat digunakan sebagai masukan guna menjaga dan merawat kerukunan bangsa,"ujarnya. Sekretaris Dewan Pengurus Yayasan Pendidikan Widya Kerthi, Kol. (Purn) Dr. Drs. Dewa Ketut Budiana, M.Fil.H., sangat mendukung kegiatan seminar seperti itu karena dapat digunakan para dosen untuk mengkaji kerukunan melalui karya-karya ilmiahnya. "Kami tidak mengharapkan adanya kekerasan di Unhi, tetapi hendaknya jadi Purohitanya untuk umat Hindu di Nusantara,"harapnya. HM

Image
Senin, 03 Desember 2018
Peserta dari 8 Negara Asia Tenggara Deklarasi Pengobatan Tradisional di UNHI

REKTOR Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S., akhirnya secara resmi meresmikan Griya Sehat Ayurweda Unhi Denpasar, Jumat (30/11) lalu. Peresmian dihadiri langsung oleh Menteri Ayurveda, Yoga, and Homoepathy (AYUSH) India, H.E. Shri Shripad Y. Naik, dan para seluruh akademisi Unhi Denpasar. Griya Sehat Ayurweda Unhi Denpasar ini akan menjadi pilihan alternatif masyarakat Bali dan dunia untuk mendapatkan pelayanan kesehatan tradisional. Sebab, Griya Sehat Ayurweda ini mengkombinasikan pengobatan Ayurweda dengan Usada Bali dengan beberapa jenis pengobatan. Rektor Unhi Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S., mengatakan fasilitas Griya Sehat Ayurweda sepenuhnya didukung oleh ICCS India dan kurikulum yang ada merupakan kombinasi Ayurveda dan Usada Bali. Griya Sehat Ayurweda ini memiliki dua fungsi. Selain sebagai Griya Sehat juga tempat pendidikan dikaitkan dengan program studi kesehatan tradisional yang satu-satunya dimiliki Unhi Denpasar, yakni program studi Ayurveda. "Saya kira satu-satunya program studi kesehatan tradisional di Indonesia yang dilengkapi dengan fasilitas hampir sama dengan rumah sakit pendidikan adalah di Unhi Denpasar,"ujar Prof. Damriyasa. Sebagai catatan, Prof. Damriyasa mengatakan bahwa pengobatan di Griya Sehat Ayurweda bersifat tradisional, sehingga metode pengobatannya berbeda dengan rumah sakit modern dengan obat medis. Sehingga lebih banyak ke penyakit psikis. "Intinya, kami ingin menghidupkan sistem pengobatan tradisional yang lebih banyak menggunakan obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang sifatnya untuk mencegah dan memberikan kekebalan tubuh agar masyarakat tidak mudah sakit,"tandasnya. Peresmian Griya Sehat Ayurweda dirangkai dengan Seminar Internasional yang mengangkat tema "International Conference on Ayurveda and Traditional Healthcare in Southeast Asia: An ASEAN Umbrella of Shared Heritage". Seminar Internasional yang mengangkat tentang pengobatan tradisional dan baru pertama kali diadakan di Bali ini menghadirkan 24 narasumber dan melibatkan 150 peserta dari 8 negara di dunia. Kegiatan seminar internasional ini berlangsung selama 2 hari, yaitu 30 Nopember - 1 Desember 2018. Selain itu, para peserta seminar juga melakukan penandatanganan "Bali Declaration onAyurveda and Traditional Healthcare" Sabtu (1/12) lalu. Dimana deklarasi yang ditandatangani 24 peserta dari 8 negara se-Asia Tenggara tersebut, salah satunya menyatakan bahwa, Sistem pengobatan tradisional yang memiliki pendekatan holistik menawarkan manfaat yang lebih baik, efektif dan jangka panjang yang juga tanpa efek samping. Prof. Damriyasa mengatakan, deklarasi ini untuk menyatakan kesepakatan untuk mengembangkan pengobatan tradisional sebagai salah satu penanganan kesehatan. Di samping juga untuk mengingatkan masyarakat terkait pengobatan tradisional yang dilakukan oleh para leluhur. Dimana, sebenarnya pengobatan tradisional itu mengambil konsep pengobatan tradisional. Dalam kesempatan tersebut, dijelaskan alasan pihaknya mengembangkan pengobatan tradisional di Bali karena di negara-negara maju ketersediaan tumbuh-tumbuhan bahan obat itu terbatas. Namun, di Bali sendiri, tidak hanya kaya dengan sumber daya alam bahan-bahan obat tradisional, melainkan juga kaya ilmu pengetahuan. Bali banyak memiliki lontar-lontar usada yang perlu digali dan kembangkan. Tentunya dalam hal tersebut, universitas mempunyai tugas untuk mengali, mengembangkan, dan mengkaji secara ilmiah. "Inilah peran utama kami di Universitas Hindu Indonesia. Oleh karena itu, kami selalu konsen dan menjadi unggulan kami adalah program studi atau fakultas Aryurveda yang berbasis usada Bali,"pungkasnya. HM

Image
Selasa, 27 November 2018
PWK FT Unhi Denpasar Gelar LKTI dan Lomba Essai "Kota Yang Berbudaya"

HIMPUNAN Mahasiswa Program Studi (Prodi) Perencanaan Wilayah Kota Fakultas Teknik Universitas Hindu Indonesia (PWK FT Unhi) Denpasar menggelar Lomba Karya Tulis Ilmiah Perencanaan Wilayah Kota (LKTI-PWK) tingkat SMA/SMK dan Lomba Essai tingkat SMP se-Bali dengan tema "Kota yang Berbudaya", Kamis (15/11) kemarin. Lomba LKTI dan Lomba Essai yang ke-8 ini diikuti sebanyak 10 finalis untuk lomba LKTI dan 10 finalis untuk lomba Essai. Ketua Panitia LKTI dan Essai ke-8, Putu Cempaka Mas Puspita Wardana, menjelaskan perkembangan pembangunan perkotaan di era saat ini, khusunya di Bali telah mencapai tahap yang lebih maju, sehingga diperlukan usaha memacu untuk lebih baik lagi dengan mengakomodasi pemikiran siswa/siswi terpelajar. Salah satu usaha yang dilakukan untuk memacu perkembangan pembangunan perkotaan tersebut adalah menyediakan ruangan pemikiran dan gagasan-gagasan cerdas melalui karya ilmiah dan essai tentang kota yang berbudaya. Kaprodi PWK FT Unhi Denpasar, Ni G.A. Diah Ambarwati Kardinal, ST.,MT., mengatakan bahwa sejak dilakukan pada tahun 2011, peserta LKTI tingkat SMA/SMK se-Bali dan Lomba Essai tingkat SMP se-Bali terus mengalami peningkatan peserta. Tahun ini, peserta LKTI yang mendaftar sebanyak 12 kelompok dan peserta Lomba Essai yang mendaftar sebanyak 36 peserta. Namun, setelah dilakukan seleksi yang ketat, masing-masing meloloskan 10 finalis peserta. "Ini merupakan anugerah bagi kami,karena pada tahun ini jumlah peserta yang ikut lomba paling banyak dari lomba LKTI dan lomba Essai tahun-tahun sebelumnya,"tandas Diah Ambarwati, Kamis (15/11). Lebih jauh dikatakan, LKTI dan Lomba Essai yang melibatkan siswa/siswi SMA/SMK dan SMP bertujuan untuk menanamkan sejak dini tentang kesadaran siswa mengenai tata ruang perkotaan. Sebab, tanggung jawab tentang tata ruang perkotaan tidak hanya kepada orangtua, tetapi kepada anak-anak sejak masih duduk dibangkh sekolahan. "Kita menanamkan kesadaran terhadap lingkungan, kepedulian tentang keajegan budaya Bali itu harus sudah mulai sejak dini,"ujarnya. Hasil karya ilmiah dan essai yang dihasilkan para siswa, dikatakan nantinya akan dijadikan buku sebagai dokumentasi akademik. Sehingga bisa dibaca dan diketahui oleh masyarakat luas untuk mendukung program pemerintah daerah dalam hal tata ruang perkotaan. Wakil Rektor III Unhi Denpasar, Dr. Ir. I Wayan Muka, ST.,MT., mengatakan LKTI merupakan sebuah wadah untuk memberikan ruang kepada siswa SMA/SMK untuk terbiasa menulis karya ilmiah sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku. Sementara untuk Lomba Essai bertujuan untuk memberikan ruang kepada siswa untuk mengekspresikan ide-idenya tentang masalah-masalah lingkungan yang ada disekitarnya. Sehingga, hasil karya ilmiah dan essainya bisa memberikan kontribusi terhadap perkembangan tata ruang perkotaan di Bali. "Mudah-mudahan apa yng menjadi kajian siswa-siswi ini bisa menjadi referensi untuk Pemerintah Provinsi Bali. Apalagi, kami di Unhi Denpasar sangat mendukung program Pemerintah yang baru ini, yaitu 'Nangun Sat Kerthi Lokha Bali',"pungkas Wayan Muka. Dekan FT Unhi Denpasar, Komang Gede Santhyasa, ST., MT., menambahkan, melalui kegiatan ini, pihaknya ingin memberi ruang pelajar SMA/SMK memikirkan bersama pembangunan kotanya, termasuk mencari solusi dari permasalah yang ada. ***

Image
Rabu, 07 November 2018
UNHI Pentaskan Kecak Ramayana di India

PERAYAAN Deepavali rutin dilakukan setiap tahun di seluruh dunia. Perayaan tersebut berlangsung sejak tanggal 4 sampai 7 November. Di India, puncak perayaannya dilaksanakan tanggal 6 November, sedangkan di Indonesia, khususnya di Bali dilaksanakan tanggal 7 November. Acara yang berlangsung 3 hari tersebut dihadiri beberapa pejabat dari wilayah Uttar Pradesh, termasuk Chief Minister Uttar Pradesh. Perayaan Deepavali tersebut bertajuk Ramleela Utsava. Tidak main-main, pemimpin negara yang terlibat seperti Korea, Rusia, Trinidad dan Tobago, Laos, Kamboja juga hadir dalam perayaan cahaya yang dipusatkan di daerah Ayodhya tersebut. Khusus untuk Korea, yang hadir adalah The First Lady. Sejak tahun lalu, tim kesenian Universitas Hindu Indonesia Denpasar rutin diundang untuk tampil di India memeriahkan perayaan Deepavali tersebut. Tahun ini tim kesenian Unhi kembali diundang dan telah memberangkatkan tim kesenian berjumlah 33 orang, yang terdiri dari dosen dan mahasiswa di Fakultas Pendidikan Agama dan Seni. Keberangkatan kali ini langsung didampingi oleh Rektor dan Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama beserta sekretaris Yayasan Pendidikan Widya Kerti. Rektor Unhi, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S menyampaikan, keterlibatan UNHI dalam pementasan kesenian ini adalah tindak lanjut kerjasama dalam bentuk MoU antara Ayodhya Research Institute dengan Unhi Denpasar. Jadi setiap tahun, Unhi diundang untuk tampil di India. Tahun ini kami tampil 2 kali, yaitu di kota Lucknow dan Ayodhya dalam rangkaian acara Deepavali. Jadi kami mewakili Bali dan Indonesia untuk tampil. Selain kami dari Indonesia, ada beberapa tim kesenian dari negara lain, seperti Korea, Rusia, Laos, Thailand, Trinidad dan Tobago, India, Kamboja, dan tim-tim kesenian dari negara-negara lain. Dapat kata lain, kami adalah satu-satunya wakil dari Indonesia dalam ajang kesenian internasional yang dipusatkan di Ayodhya ini. Hal ini merupakan komitmen mewujudkan visi Unhi Denpasar sebagai pusat kajian agama dan budaya Hindu, serta langkah nyata untuk go internasional menuju world class university, paparnya. Pada kesempatan kali ini, tim kesenian Unhi Denpasar menampilkan garapan kesenian Kecak Ramayana. Di sela-sela pentas kesenian di kota Lucknow, Rektor Unhi Denpasar juga menambahkan bahwa ini merupakan wujud nyata UNHI melestarikan dan mengembangkan kesenian dan budaya Hindu Indonesia. Selain itu, ajang ini menjadi wahana bagi mahasiswa melatih mental mereka tampil di dunia Internasional. Kali ini kami melibatkan 20 orang mahasiswa terpilih untuk tampil. Mahasiswa-mahasiswa tersebut terdiri dari mahasiswa dari Prodi Pendidikan Seni Tari, Seni Karawitan, Seni Rupa, dan Pendidikan Agama Hindu. Tahun depan tidak tertutup kemungkinan mahasiswa dari prodi lain juga dilibatkan, tergantung komitmen mereka terhadap kesenian dan budaya Hindu, paparnya. Tim kesenian Unhi ini langsung dipimpin oleh Dekan Fakultas Pendidikan Agama dan Seni, Prof. Dr. Ida Ayu Gde Yadnyawati, M.Pd, yang juga langsung berperan sebagai Dewi Sita. Prof. Yadnyawati menyampaikan Kami sejak tahun lalu rutin diundang ke sini (India red.). Kami dari Unhi dipandang sangat berkomitmen dan dipandang sangat layak untuk tampil dalam ajang kesenian Ramleela, kesenian yang mengambil tema berkaitan dengan tokoh Rama dan epos Ramayana. Tahun lalu kami tampil dengan personil lebih sedikit, tahun ini jumlah personil kami lebih besar, yaitu lebih dari 30 orang. Kami sudah berangkat tanggal 3 November, dan pulang tanggal 8 November, paparnya. Prof. Yadnyawati menambahkan, semua biaya keberangkatan, akomodasi, konsumsi ditanggung pihak Ayodhya Research Institute. Ini adalah usaha kami selalu menggemakan kesenian dan kebudayaan Indonesia, khususnya Bali di ajang internasional. Harapan berikutnya adalah kerjasama ini tetap kami laksanakan, dan tidak tertutup kemungkinan tahun depan kami juga akan tampil di negara lain karena disini kami bertemu tim-tim kesenian dari banyak negara., tutupnya. HM

Image
Selasa, 06 November 2018
Pemuda-pemudi Asean Diskusikan Toleransi di UNHI

SEBANYAK 22 pemuda-pemudi terpilih dari 10 negara anggota ASEAN "belajar" mengenai toleransi dan keberagaman di Bali, serangkaian kegiatan "ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) 2018". "Dipilihnya Bali sebagai tempat kegiatan ini karena merupakan wajah toleransi,wajah keberagaman, termasuk masyarakatnya menjunjung tinggi kehidupan beragama. Sehingga ini merupakan salah satu model yang patut disebarluaskan kepada para pemuda di ASEAN," kata Direktur Kerjasama Sosial Budaya ASEAN Kementerian Luar Negeri Riaz Saehu, usai menjadi 'keynote speaker" dalam seminar di Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, Jumat. Kegiatan AYIC 2018 tersebut merupakan kerja sama antara Kemenko PMK, dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan AYIC 2018, diselenggarakan seminar untuk membahas implementasi "ASEAN Culture of Prevention" di kalangan pemuda. Tahun lalu, inisiatif ini telah diresmikan oleh para pemimpin negara ASEAN melalui dokumen ASEAN "Declaration on Culture of Prevention for a Peaceful, Inclusive, Resilient, Healthy and Harmonious Society" pada pertemuan KTT ASEAN ke-31 di Manila. "Tujuannya untuk mempromosikan rasa saling memahami, saling menghargai, termasuk menghargai budaya dari berbagai daerah," ujar Riaz. Pemuda-pemudi yang menjadi peserta AYIC 2018 juga merepresentasikan berbagai agama, dan diharapkan suatu saat dapat menjadi calon pemuka agama. Dengan telah mempunyai jejaring, di kemudian hari ketika ada masalah mereka sudah bisa saling memahami. Terkait seminar yang diselenggarakan di Unhi Denpasar merupakan kedua kalinya dalam rangkaian kegiatan AYIC 2018. Sebelumnya seminar yang pertama telah dilaksanakan di Yogyakarta. "Kami memilih pelaksanaan seminar di Unhi Denpasar karena selama ini banyak melakukan aktivitas dialog lintas agama. Selain itu, juga banyak kegiatan kami yang melibatkan akademisi Unhi Denpasar dalam mempromosikan kerukunan umat beragama di Bali," ucap Riaz. Kegiatan AYIC 2018 di Bali juga disertai dengan kunjungan ke beberapa tempat ibadah di Bali, seperti Puja Mandala, komplek dimana lima tempat ibadah berdiri berdampingan; Desa Dalung, pemukiman yang pemeluk agama Hindu dan agama lainnya dengan harmonis; serta Pura Besakih, pura terbesar di Bali. Selain itu, peserta juga akan mengunjungi Puri Den Bencingah, Kabupaten Klungkung, yang merupakan tempat asal tokoh agama sekaligus Ketua FKUB Bali dan Ketua Asosiasi FKUB Indonesia Ida Panglingsir Agung Putra Sukahet."Ini menjadi kesempatan yang baik untuk bertemu langsung dengan tokoh yang terlibat mengelola dialog antarmasyarakat yang berbeda agama," ucapnya. ***