background

BERITA

Berita Utama


Berita Terbaru

Image
Rabu, 07 November 2018
UNHI Pentaskan Kecak Ramayana di India

PERAYAAN Deepavali rutin dilakukan setiap tahun di seluruh dunia. Perayaan tersebut berlangsung sejak tanggal 4 sampai 7 November. Di India, puncak perayaannya dilaksanakan tanggal 6 November, sedangkan di Indonesia, khususnya di Bali dilaksanakan tanggal 7 November. Acara yang berlangsung 3 hari tersebut dihadiri beberapa pejabat dari wilayah Uttar Pradesh, termasuk Chief Minister Uttar Pradesh. Perayaan Deepavali tersebut bertajuk Ramleela Utsava. Tidak main-main, pemimpin negara yang terlibat seperti Korea, Rusia, Trinidad dan Tobago, Laos, Kamboja juga hadir dalam perayaan cahaya yang dipusatkan di daerah Ayodhya tersebut. Khusus untuk Korea, yang hadir adalah The First Lady. Sejak tahun lalu, tim kesenian Universitas Hindu Indonesia Denpasar rutin diundang untuk tampil di India memeriahkan perayaan Deepavali tersebut. Tahun ini tim kesenian Unhi kembali diundang dan telah memberangkatkan tim kesenian berjumlah 33 orang, yang terdiri dari dosen dan mahasiswa di Fakultas Pendidikan Agama dan Seni. Keberangkatan kali ini langsung didampingi oleh Rektor dan Wakil Rektor III bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama beserta sekretaris Yayasan Pendidikan Widya Kerti. Rektor Unhi, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S menyampaikan, keterlibatan UNHI dalam pementasan kesenian ini adalah tindak lanjut kerjasama dalam bentuk MoU antara Ayodhya Research Institute dengan Unhi Denpasar. Jadi setiap tahun, Unhi diundang untuk tampil di India. Tahun ini kami tampil 2 kali, yaitu di kota Lucknow dan Ayodhya dalam rangkaian acara Deepavali. Jadi kami mewakili Bali dan Indonesia untuk tampil. Selain kami dari Indonesia, ada beberapa tim kesenian dari negara lain, seperti Korea, Rusia, Laos, Thailand, Trinidad dan Tobago, India, Kamboja, dan tim-tim kesenian dari negara-negara lain. Dapat kata lain, kami adalah satu-satunya wakil dari Indonesia dalam ajang kesenian internasional yang dipusatkan di Ayodhya ini. Hal ini merupakan komitmen mewujudkan visi Unhi Denpasar sebagai pusat kajian agama dan budaya Hindu, serta langkah nyata untuk go internasional menuju world class university, paparnya. Pada kesempatan kali ini, tim kesenian Unhi Denpasar menampilkan garapan kesenian Kecak Ramayana. Di sela-sela pentas kesenian di kota Lucknow, Rektor Unhi Denpasar juga menambahkan bahwa ini merupakan wujud nyata UNHI melestarikan dan mengembangkan kesenian dan budaya Hindu Indonesia. Selain itu, ajang ini menjadi wahana bagi mahasiswa melatih mental mereka tampil di dunia Internasional. Kali ini kami melibatkan 20 orang mahasiswa terpilih untuk tampil. Mahasiswa-mahasiswa tersebut terdiri dari mahasiswa dari Prodi Pendidikan Seni Tari, Seni Karawitan, Seni Rupa, dan Pendidikan Agama Hindu. Tahun depan tidak tertutup kemungkinan mahasiswa dari prodi lain juga dilibatkan, tergantung komitmen mereka terhadap kesenian dan budaya Hindu, paparnya. Tim kesenian Unhi ini langsung dipimpin oleh Dekan Fakultas Pendidikan Agama dan Seni, Prof. Dr. Ida Ayu Gde Yadnyawati, M.Pd, yang juga langsung berperan sebagai Dewi Sita. Prof. Yadnyawati menyampaikan Kami sejak tahun lalu rutin diundang ke sini (India red.). Kami dari Unhi dipandang sangat berkomitmen dan dipandang sangat layak untuk tampil dalam ajang kesenian Ramleela, kesenian yang mengambil tema berkaitan dengan tokoh Rama dan epos Ramayana. Tahun lalu kami tampil dengan personil lebih sedikit, tahun ini jumlah personil kami lebih besar, yaitu lebih dari 30 orang. Kami sudah berangkat tanggal 3 November, dan pulang tanggal 8 November, paparnya. Prof. Yadnyawati menambahkan, semua biaya keberangkatan, akomodasi, konsumsi ditanggung pihak Ayodhya Research Institute. Ini adalah usaha kami selalu menggemakan kesenian dan kebudayaan Indonesia, khususnya Bali di ajang internasional. Harapan berikutnya adalah kerjasama ini tetap kami laksanakan, dan tidak tertutup kemungkinan tahun depan kami juga akan tampil di negara lain karena disini kami bertemu tim-tim kesenian dari banyak negara., tutupnya. HM

Image
Selasa, 30 Oktober 2018
UNHI dan Bali Wisdom Bahas Buku Sastra Wangsa

Persoalan wangsa merupakan suatu hal yang masih kental bagi masyarakat Bali. Kurangnya pemahaman terhadap wangsa tanpa dilandasi sastra akan mendatangkan fanatisme kewangsaan seseorang dan bisa membuat gejolak antar wangsa. Hal itulah membuat Yayasan Bali Wisdom membedah buku Shastra Wangsa di Aula Universitas Hindu Indonesia (Unhi), Denpasar Minggu (28/10). Buku Shastra Wangsa, merupakan hasil terjemahan dari (alm) IBM. Dharma Palguna dengan menulis apa yang ia baca dan dengar dari tokoh-tokoh agamawan. Pembedah buku Prof. Dr. I Wayan Sukayasa menjelaskan, buku itu terdiri atas dua bagian. Terjemahan kewangsaan, dan kamus istilah dari kewangsaan itu sendiri. Wangsa ini sebagai pil pahit bagi kita menurut dia. Kemudian dia mencoba mengobati dengan memberikan obat yang berupa sastra ini, terangnya. Sukayasa juga mengatakan orang yang diberikan pil adalah orang yang sakit. Sedangkan keberadaan kita dianggapnya sakit, lantaran sakit terkait fanatisme kewangsaan. Tak jarang membuat sekelompok orang menunjukkan wangsa mereka masing-masing dengan membuat paiketan. Lantaran dianggap sakit kewangsaan, maka sastra wangsa tersebut disebutnya sebagai obat yang akan menyembuhkan jika benar-benar dipahami. Kalau saya umpamakan orang sakit kewangsaan itu seperti sakit sariawan. Karena datangnya dari dalam diri sendiri, panasnya itu juga dari dalam diri. Obatnya adalah tattwa keleluhuran dengan cara membaca teks Shastra Wangsa tersebut, ungkap Direktur Pascasasrjana UNHI Denpasar tersebut. Lanjutnya, dalam buku tersebut terdapat ilmu tentang kewangsaan. Mulai dengan mengolah seni bahasa dari berbagai aspek ilmu. Tidak menutup kemungkinan alm. IBM Dharma Palguna memperolehya dengan belajar secara otodidak. Di samping itu juga pengaruh lingkungannya yang sering bergaul dengan orang nyastra. Sukayasa mengaku sebelumnya ia memang sudah kenal dengan alm. IBM Dharma Palguna semasa duduk di bangku kuliah. Dikatakan juga ia memang penekun sastra yang sangat kritis terhadap kata-kata yang ada di lontar. Selain itu juga sangat bersifat sosial religius, dan menghibur. Bedah buku-buku ini juga sebagai memperingati setahun kepergian almarhum, ini menandakan karya almarhum masih tetap hidup dan sebagai pegangan oleh anak cucu kita nanti, terang pria asli Tabanan tersebut. Pada tempat yang sama, salah satu dosen Universitas Udayana, I Putu Eka Guna Yasa, SS,.M.Hum mengaku belakangan ini wangsa dan kewangsaan mulai ngetren kembali. Bahkan sudah mulai membuat paiketan-paiketan dan rentan menjadikan keretakan dalam sesama umat. Gejolak wangsa satu dengan yang lainnya saat ini sudah mulai kelihatan. Terlebih jika dikaitkan dengan politis akan membuat keretakan antar wangsa, ucapnya. Dinamika dan prilaku seseorang yang seperti itu menurutnya bisa saja akan menjadi kepongor (sakit tanpa sebab, Red). Pasalnya kepongor bisa saja ditimpa oleh siapa saja karena mengingkari janji yang diucapnya kepada leluhur secara personal. Misalnya banyak pekerjaan namun secara fisik dan material dia selalu kekurangan. Maka sastra ini sesungguhnya penuntun kehidupan, terang Guna Yasa. Tambahnya, untuk menanggulangi gejolak dan keteretakan yang disebabkan oleh fanatisme kewangsaan tersebut dapat dilakukan dengan belajar sastra wangsa itu. Karena sastra juga dapat dikatakan orang tua kita juga, sehingga dapat mencegah tejadinya gejolak kefanatikan tersebut. *

Image
Jumat, 26 Oktober 2018
UNHI Raih Juara 1 Lomba Tari dalam PEKSIMINAS XIV

UNIVERSITAS Hindu Indonesia terus menorehkan prestasi khususnya di bidang kesenian. Sebelumnya, tim kesenian UNHI meraih juara satu Festival Budaya pada acara Festival Pesona Lokal, kali ini tim Unhi meraih jara 1 Tangkai Lomba Tari dalam PEKSIMINAS XIV di Yogyakarta pada 15-21 Oktober 2018. Tim kesenian dari mahasiswa dan dosen UNHI ini dibina oleh I Made Sugiartha SSn, M.Si. Dalam kesempatan di wawancara, Wakil Rektor III UNHI Dr. Ir. I Wayan Muka ST MT menyampaikan kebanggaan atas prestasi yang diraih oleh mahasiswa dan dosen kesenian UNHI Denpasar. Menurutnya, prestasi ini merupakan bentuk komitmen Unhi yang selalu berupaya menyajikan pagelaran kesenian yang baik. Sangat membanggakan, semoga bisa dipertahankan terus, papar Mantan Dekan Teknik ini. Wayan Muka melanjutkan, bahwa prestasi yang diraih oleh UNHI merupakan prestasi tingkat nasional dan mengembalikan prestasi BPMSI Bali sejak tahun 2008. Prestasi ini juga merupakan persembahan terhadap Dies Natalis UNHI ke 55. Ini adalah prestasi nasional. Kita bisa mengembalikan prestasi BPMSI sejak 2008. Ini prestasi yang membanggakan Bali pada umumnya dan UNHI pada khususnya, paparnya. HM

Image
Selasa, 23 Oktober 2018
Bupati Klungkung Apresiasi Hasil KKN UNHI

REKTOR Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, MS., menutup masa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unhi 2018 di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung, bertempat di Lapangan Umum Brasika, Desa Nyalian, Sabtu (21/10). Berdasarkan evaluasi yang dilakukan panitia, Prof. Damriyasa mengaku seluruh program yang menyasar 31 desa itu berjalan baik, dengan hasil cukup memuaskan. "Kami akan tindaklanjuti hasil KKN ini melalui laporan kegiatan," kata Prof. Damriyasa usai menutup KKN. Menurut Prof. Damriyasa, KKN Unhi berbeda dibanding KKN perguruan tinggi (PT) lain, karena Unhi mengemban tugas menjaga kelestarian nilai budaya Hindu Bali. Dari sisi pelaksanaan, KKN Unhi juga lebih lama, yakni 2 bulan. Terlebih untuk mendukung kebijakan Gubernur Bali terkait penguatan aksara, bahasa dan busana Bali. Ia meminta, para dosen di lingkungan Unhi harus berperan aktif dalam KKN selanjutnya. Karena banyak potensi-potensi tradisional di desa yang bisa dikaji untuk bahan penelitian. "KKN ini bukan sebatas aktivitas mahasiswa, tapi juga dosen. Kami minta dosen aktif menggali potensi di lapangan. Jadi sekali terjun, dapat manfaat dobel," ujar dia, seraya menambahkan pihaknya akan merancang program bersama masyarakat sebelum menggelar KKN ke depan. Menanggapi harapan Bupati Klungkung yang menginginkan KKN tahun depan digelar kembali di Klungkung, Prof. Damri mengatakan hal itu sebuah tantangan menarik. Ia menambahkan, sudah semestinya kerja sama PT dengan pemeritah daerah diperkuat demi mensukseskan program bersama. Pada kesempatan yang sama, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang diwakili Kadisdikpora Dewa Gde Darmawan mengatakan, orang nomor satu di Klungkung itu meminta seluruh program yang dilaksanakan lebih dari 650 peserta didik Unhi agar dilanjutkan. "Kami minta program yang sudah dilaksankan agar dilanjutkan. Jangan ditinggal begitu saja, agar tidak sia-sia," kata Darmawan menyampaikan pesan Suwirta. Kepada mahasiswa, bupati meminta agar mewujudkan tanggungjawabnya terhadap apa yang telah dilakukan di masing masing desa pakraman se-Kecamatan Banjarangkan. Meskipun kontribusi mahasiswa belum terlalu besar, namun ia yakin jika diteruskan akan menjadi sesuatu yang berarti di masa depan, tumbuh berkembang menjadi hal lebih besar sebagai penopang masyarakat klungkung menuju Klungkung yang unggul dan sejahtera dengan spirit Gema Santi. KKN Unhi 2018, lanjut Darmawan, tergolong inovatif. Hal ini sesuai dengan Ikon Pemkab Klungkung yakni membangun masyarakat dengan inovasi. "Apa yang sudah dilakukan mahasiswa dengan 20 program inovasi berbasis Tri Hita Karana, telah menguatkan desa adat di kecamatan Banjarangkan. Pak Bupati (Suwirta) selalu mengapresiasi upaya setiap orang yang berkontribusi untuk pembangunan Klungkung, tanpa memandang besar atau kecil," katanya memungkasi. HM

Image
Selasa, 23 Oktober 2018
Sarasehan Budaya, Pascasarjana Hadirkan Pembicara Lokal dan Internasional

SASTRA Hindu memiliki sumbangsih yang besar terhadap peradaban bangsa Indonesia. Sejak masa klasik, Mahabarata (Asta Dasa Parwa), Ramayana, dan sastra lainnya telah memicu lahirnya kebudayaan yang lebih besar dan fundamental. Untuk itu, literasi sastra Hindu hendaknya dapat terus digalakkan. Bangsa ini berperadaban karena sastra Hindu. Dari zaman Diah Balitung (Mataram Kuno), ketika Ramayana diciptakan tahun 1048 silam, (dan) menjadi sastra terpanjang dan tertua di Nusantara, ungkap pengamat budaya, I Wayan Westa dalam Sarasehan Srawung Seni Sastra Hindu ke-2 yang diselenggarakan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia (PPs-Unhi) di Auditorium Pps Unhi, Jumat (20/10). Ramayana menjadi kanal peradaban di Bumi Nusantara yang bertahan hingga saat ini. Dari Adikawya Ramayana kemudian terlahir karya-karya sastra lain dalam berbagai bentuk transformasi, seperti geguritan, kidung, dan sebagainya. Menurutnya, lebih dari 1000 tahun lalu, Raja Dharmawangsa Teguh telah dengan sadar melakukan politik literasi di Nusantara, yakni melalaui mega proyek membahasa-Jawa-kan ajaran Bhagawan Byasa. Dari proyek itu, kini tertinggal 9 parwa, dari Adi Parwa hingga Bhisma Parwa. Inilah yang sampai ke kita hari ini. Tanpa Ramayana, tanpa proyek Dharma Wangsa tegguh, apa artinya Bali dan Hindu Nusantara hari ini? jelasnya dalam kegiatan yang digelar sebagai peringatan Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa 2018 itu. Namun, saat ini, ia menilai ada kesenjangan yang tengah dihadapi masyarakat Nusantara sebagai pewaris peradaban itu. Generasi muda, yang konon merupakan pemegang masa depan bangsa memiliki kesulitan menemukan bangunan peradaban Hindu Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan dimana harus belajar ajaran Hindu Indonesia atau Hindu Bali tampak belum terjawab hingga saat ini. Pelaku kebudayaan pun terkesan linglung di tengah gempuran berbagai paham yang masuk. Untuk menjawab tantangan itu, gerakan literasi sastra Hindu sebagaimana yang digagas Raja Dharmawangsa Teguh hendaknya digiatkan. Pelajar hingga mahasiswa hendaknya diperkenalkan kembali pada bangunan-bangunan yang telah lama dilupakan. Perlu adanya inovasi yang bisa mentransformasikan nilai yang ada dalam sastra Nusantara dalam bentuk yang lebih kekinian, sehingga lebih mudah dikonsumsi kaum milenial. Jika bahasanya kita tidak mengerti, bagaimana mempelajari ajaran itu? Persoalan lain, jika bahasanya sudah bisa, tapi aksaranya kita tidak mengerti, kita juga tidak sampai padafirst knowledgedari sumber ajaran itu. Syukur ada terjemahan, jadi kita masih bisa belajar dari terjemahan, ujarnya. Sementara, Ketua Panitia Sarasehan Dr. I Wayan Budi Utama, M.Si., menjelaskan, sarasehan itu adalah wujud nyata pihaknya melestarikan nilai budaya Bali, termasuk mendukung Pergub Bali Tentang Penguatan Aksara dan Busana Bali yang telah diberlakukan awal Oktober lalu. Sarasehan pertama (2017) temanya sastra daerah. Kemudian saat ini kami kembangkan untuk mengkaji hubungan sastra Bali dengan arsitektur. Karena kita sadari arsitektur Bali makin tergerus, ungkapnya. Mneurutnya, untuk membangun Bali dan Indonesia ke depan, sudah saatnya pemegang kebijakan kembali menengok warisan-warisan leluhur terdahulu. Ia meyakini pengkajian, pemahaman, dan penerapan sastra-sastra Nusantara dapat menjawab tantangan-tantangan ke depan. Nanti hasil sarasehan akan kami publikasi, dan kami berharap ada perhatian dari pemerintah terkait apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus disesuaikan, pungkasnya. Beberapa tokoh turut berbicara dalam kegiatan yang diikuti puluhan orang itu, diantaranya Ketut Arini (maestro tari Bali), I Gede Agus Darma Putra (sastrawan Bali Modern penerima Penghargaan Sastra Rancage 2018), Prof. Dr. Sulistyawati (Guru Besar Emiritus Jurusan Arsitektur Unud), Dr. Dustin D. Wiebe, Ph. D (University of Manitoba, Canada),dan Diane Buttler (kajian budaya Unud). HM

Image
Jumat, 19 Oktober 2018
Lulusan Fakultas Teknik UNHI Diserap Dunia Kerja

FAKULTAS Teknik Universitas Hindu (Unhi) Denpasar terus berupaya mengembangkan program studi dan kualitas lulusan dengan kompetensi berbasiskan budaya, sehingga diharapkan nantinya bisa turut mempertahankan keunikan dan keragaman budaya Nusantara. "Jadi, kami juga membekali mahasiswa dengan nilai-nilai budaya, karena membangun itu harus ada sisi budaya, tidak semata-mata teknologi atau urusan kerekayasaan," kata Dekan Fakultas Teknik Unhi Denpasar, I Komang Gede Santhyasa ST, MT, disela-sela acara Yudisium FT Unhi Denpasar.Menurut Santhyasa, karakteristik atau keunikan budaya Indonesia yang beragam, tentu tidak bisa disamakan, termasuk dalam hal pembangunan. Contohnya membangun di wilayah Papua dengan di Denpasar, tentu tidak boleh sama karena memiliki karakteristik masing-masing."Jadi, saya kira itu menjadi pasar `jualan` yang unik, apalagi didekatkan dengan destinasi pariwisata? Budaya tidak saja dalam konteks fisik, tetapi juga budaya masyarakatnya," ujarnya. Selain aspek budaya yang menjadi keunggulan Fakultas Teknik Unhi Denpasar, juga prospek lulusan untuk terserap di pasar kerja cukup tinggi di tengah perkembangan dunia global di era Sustainable Development Goals (SDGs) 2015-2030. Dia menyatakan, dari sejumlah "goals" atau tujuan yang ingin dicapai dari SDGs, setidaknya tiga "goals" yang begitu terkait dengan lulusan Fakultas Teknik dan menjadi peluang kerja yang luas yakni target mengurangi kesenjangan atau disparitas wilayah, pembangunan infrastruktur, serta menjadikan kota dan permukiman yang berkelanjutan. "Khususnya lewat Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) yang kami miliki itu akan banyak berbicara untuk mengurangi disparitas antarwilayah, paling tidak dapat mengurangi kesenjangan pembangunan di kawasan Bali Selatan, dengan Utara, Timur, dan Selatan," ujarnya.Secara nasioal, terkait dengan "goals" atau tujuan pembangunan infrastruktur serta menjadikan kota dan permukiman yang berkelanjutan, menurut Santhyasa, telah dijawantahkan Presiden Joko Widodo ke dalam program Nawa Citta dengan kebijakan membangun Indonesia dari pinggiran dan oleh Kementerian PUPR ditindaklanjuti dengan pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah di Tanah Air. "Pembangunan infrastruktur itu ada sektor jalan, perumahan, keciptakaryaan, penataan ruang, sumber daya air dan sebagainya. Tentunya, masing-masing sektor memberikan ruang yang luas bagi lulusan kami di Fakultas Teknik," katanya. Hingga saat ini, FT Unhi Denpasar telah meluluskan 138 orang dan terserap di berbagai instansi pemerintah, menjadi kontraktor, konsultan, berkiprah di lembaga swadaya masyarakat hingga berwirausaha. Sedangkan mahasiswa yang menempuh pendidikan di FT Unhi tidak saja dari Bali, tetapi ada juga dari NTT hingga Timor Leste.Dalam waktu dekat, pihaknya juga berencana membuka Prodi Teknik Arsitektur. "Dengan demikian menjadi lengkap, di level makro ada Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota, level tengah ada Teknik Arsitektur, dan di level mikro ada Teknik Sipil. Mudah-mudahan, dengan demikian, kami semakin berkontribusi dalam membangun daerah, bangsa dan negara," kata Santhyasa.Pada acara tersebut, Fakultas Teknik Universitas Unhi Denpasar meyudisium sebanyak 25 orang mahasiswa yakni 16 orang dari Prodi Teknik Sipil dan sembilanorang dari Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota. Tiga mahasiswa dari Prodi Teknik Sipil mendapat predikat Cumlaude yakni I Kadek Suprianta Janiadi, Made Satya Yoga Maharddhika, dan I Gede Agustama Adi.nSedangkan, Benny Williyanto, menjadi yudisiawan terbaik dari Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota dengan memperoleh predikat Sangat Memuaskan. HM