background

BERITA

Berita Utama


Berita Terbaru

Image
Senin, 08 Oktober 2018
Pascasarjana Unhi Gelar Yudisium Sekaligus Bhakti Sosial di Karangasem

PASCASARJANA Universitas Hindu Indonesia mengadakan acara Yudisium di Desa Bukit Buluh Sebudi Kabupaten Karangasem. Yudisium yang dilakukan Pascasarjana Unhi memang menarik, karena dirangkaikan dengan acara Bhakti Sosial dengan para pimpinan Pascasarjana, dosen dan semua Yudisiawan dan Yudisiawati. Dalam kesempatan tersebut jajaran Pascasarjana Unhi diterima dengan sangat baik oleh Kepala Desa Bukit Buluh Sebudi Karangasem. Hadir juga saat itu perwakilan dari Departemen Agama dan jajaran Polsek. Mahasiswa yang di Yudisium berjumlah 38 orang. Yang mendapatkan nilai tertinggi Ida Ayu Komang Ratnawati dengan IPK 3,83 dan I Wayan Niarta, dengan IPKA 3,83. Dalam sambutannya, Direktur Pascasarjana UNHI Prof. Dr I Wayan Suka Yasa, M.S mengucapkan banyak terimakasih karena telah diterima dengan baik oleh Kepala Desa Bukit Buluh dan masyarakat. Menurut Prof. Suka Yasa, acara Yudisium sengaja dirangkai dengan acara Bhakti Sosial dengan tujuan membantu warga Bukit Buluh yang kurang mampu. Kami datang ke sini sekalian bhakti sosial dengan mengajak mahasiswa yang di Yudisium, paparnya. Kepala Desa Bukit Buluh I Putu Suyasa S.kom menyambut baik kedatangan jajaran Pascasarjana Unhi. Apalagi kedatangan Pascasarjana UNHI tidak hanya melaksanakan Yudisium, tetapi juga Bhakti Sosial. Menurut Suyasa masyarakat Desa Bukit Buluh memang banyak yang kurang mampu, selain itu ada juga para pengungsi Gunung Agung yang sampai sekarang statusnya masih mengungsi. Jadi bantuan yang diberikan sangat bermanfaat untuk masyarakat di sini, jelasnya. Dalam kegiatan Yudisium dan Bhakti Sosial tersebut, Pascasarjana UNHI membawa bahan makanan dan sumbangan uang untuk meringankan beban masyarakat yang selama setahun statusnya adalah pengungsi gunung agung. HM

Image
Selasa, 02 Oktober 2018
FIAK UNHI Gelar Seminar Internasional Tolerance and Religious Pluralism in Southeast Asia

REKTOR Universitas Hindu Indonesa (Unhi) Denpasar Prof Dr drh Made Damriyasa menginginkan jadi pusat kajian antar-umat beragama dan antarbudaya. "Kami tidak hanya mempelajari konsep ke-Hinduan, tetapi juga membandingkan dengan konsep agama dan budaya lain. Oleh karena itu, Unhi ke depan tentu ingin menjadi pusat kajian antar-umat beragama dan antarbudaya, dan sekaligus menjadi universitas yang modern," kata Prof Damriyasa usai membuka seminar internasional, di Denpasar, Selasa.Sejalan dengan hal tersebut, pihaknya sengaja menggelar berbagai kegiatan ilmiah yang mengangkat mengenai isu-isu keragaman agama dan budaya, baik yang berskala lokal hingga internasional."Tema yang diangkat dalam seminar ini merupakan isu menarik, penting dan sedang tren terkait keragaman agama, budaya, di tingkat Asia Tenggara dan ini juga penting bagi Indonesia yang memiliki keragaman adat, budaya dan agama," ucap Prof Damriyasa pada "International Seminar Tolerance and Religious Pluralism in Southeast Asia" itu.Kedepannya, pihaknya juga akan rutin mengundang narasumber untuk mendiskusikan isu-isu tersebut, mengirimkan dosen-dosen Unhi untuk belajar hal itu ke daerah lain, selain dengan meluncurkan jurnal internasional.Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Agama dan Kebudayaan Unhi Denpasar Drs Putu Sarjana MSi mengatakan bahwa sesungguhnya nilai-nilai toleransi dalam masyarakat Bali telah dipraktikkan jauh ketika awal Agama Hindu mulai dikenal.Bahkan, dalam keseharian masyarakat Hindu-Bali sudah tercermin dengan melaksanakan "Tri Sandhya" yang sesungguhnya menjadi bagian untuk menjaga nilai keharmonisan dan toleransi. Di samping yang perlu dilakukan dengan mengamalkan konsep Tri Kaya Parisudha (berpikir, berkata dan berbuat yang baik dan benar)."Kalau nilai-nilai Tri Kaya Parisudha sudah semua diikuti, maka tidak akan ada lagi penderitaan yang disebabkan oleh individu lainnya," kata Sarjana.Dengan mengundang sejumlah intelektual dari India dan Filipina dalam seminar tersebut, diharapkan dapat lebih diketahui kultur toleransi di kedua negara itu untuk dijadikan perbandingan."Kami harapkan dari seminar ini, dapat dihasilkan rumusan yang bermanfaat bagi kalangan akademis, khususnya terkait dengan nilai-nilai toleransi dan harmoni yang dapat diapresiasi dunia," ujar Sarjana.Dalam seminar itu juga hadir Restu Gunawan yang menjadi "keynote speaker" mewakili Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.Para pemateri dalam seminar itu yakni Manohar Puri (The Director of Swami Vivekananda Indian Culture Center), Emmanuel F Calairo PhD (De La Salle University Dasmarinas, Filipina), dan Darlene Machell de Leon Espena PhD (Singapore Management University).Sementara para pembicara dari Indonesia yakni Dr Jajat Burhanudin, Dr Didi Kwartanada, I Gusti Ngurah Aryana, Dr I Nyoman Subrata, Dr I Wayan Tagel Eddy, dan Dr I Dewa Ketut Budiana. HM

Image
Senin, 01 Oktober 2018
KKN Universitas Hindu Indonesia Tahun 2018

Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Hindu Indonesia melakukan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tahun 2018. Kegiatan KKN dimulai tanggal 6 Agustus 2018 s/d 6 Oktober 2018di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Dipilihnya tempat KKN 2018 ini dilatarbelakangi dengan tema KKN 2018 "Pertiwi Mandalaning Bhuana" yang artinya Tanah sebagai sumber kehidupan. Kecamatan Banjarangkan dipilih karena tipologi wilayahnya yang masih sebagian besar agraris, disamping itu terdapat Pura Khayangan Jagad Kentel Bumi. Dengan Pola Ilmiah Pokok Agama dan Budaya didukung dengan tema KKN 2018 kegiatan KKN dititikberatkan pada Desa Adat yang berada di wilayah Banjarangkan. KKN 2018 diikuti oleh 550 mahasiswa dengan dosen pembimbing yang terlibat sebanyak 60 orang. Kegiatan dibagi menjadi 31 kelompok KKN sesuai dengan jumlah Desa Adat yang ada. Sebagai bagian dari tri dharma Perguruan Tinggi khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, UNHI pada KKN 2018 ini juga mengeluarkan model digitalisasi awig-awig desa adat. Sebagai suatu model di ambil Desa Adat Penasan sebagai pionir kegiatan digitalisasi awig-awig. Adapun alamat web yang dapat dikunjungi adalahWebsite Desa Adat PenasanDiharapkan ke depan model ini dikembangkan di seluruh desa adat se-Bali.

Image
Kamis, 27 September 2018
Calonarang "Katuduh Ratna Manggali" Tutup UBS IX Unhi Denpasar

Berlangsung sejak 21 September lalu, Utsawa Bali Sani (UBS) IX Tahun 2018 Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar resmi ditutup dengan pementasan Calonarang "Katuduh Ratna Manggali" di Jaba Pura Maha Widya Mandira Kampus Unhi Denpasar, Kamis (27/9) malam. Pementasan calonarang ini melibatkan beberapa alumni Unhi Denpasar, salah satunya seniman bondres Tompel dan Sokir yang tergabung dalam grup bondres Celekontong Mas. Selain pementasan Calonarang, pada penutupan UBS IX 2018 juga diumumkan para pemenang lomba seni yang diperlombakan selama festival UBS dilaksanakan. Seperti, lomba bapang barong, lomba jauk manis, lomba penjor, lomba gebogan, dan pemenang jenis lomba lainnya. Ketua Panitia UBS IX 2018, Dr. Ir. I Wayan Muka, S.T.,M.T., mengatakan pementasan calonarang selalu rutin dilakukan sebagai penutup kegiatan UBS setiap tahunnya. Apalagi, sejak awal program UBS bertujuan untuk mengoptimalkan potensi-potensi seni yang berkaitan dan mencerminkan ritual dan keagamaan kepada insan seniman yang ada di Unhi Denpasar. "Pentas budaya serangkaian UBS memang fokus terhadap seni bidang agama religi dan spiritual," katanya. Wakil Rektor III Unhi Denpasar ini tidak menampik bahwa pementasan berbagai parade budaya yang ditampilkan pada festival UBS terinspirasi dari penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digelar pemerintah Provinsi Bali setiap tahunnya. Ia menilai, selama ini seniman-seniman yang sempat tampil di PKB tidak begitu banyak memiliki ruang berekspresi di ajang resmi pasca pelaksanaan PKB. Sehingga, latihan-latihan yang dijalani dengan sangat keras untuk PKB akan selesai begitu saja setelah PKB berakhir. "Kasian latihannya begitu keras untuk tampil di PKB, tapi setelah PKB berakhir mereka diam saja, tidak ada wadah untuk ditonton lagi oleh masyarakat luas dalam panggung seni yang resmi. Untuk itulah kita berbuat dan berharap bisa terus menjaga semangat dan membina mereka, mereka bisa semakin kreatif,"tandas Muka. Muka berharap, dari perhelatan UBS mampu berkontribusi bagi insan seni di Bali sebagai wadah mengembangkan dan menjaga eksistensi budaya. Apalagi, hasil dari Sarasehan dan Diskusi dengan tema "UBS Kini dan Nanti" yang dilakukan menghasilkan beberapa beberapa keputusan. Diantaranya, UBS akan tetap dilaksanakan pada tahun 2019 mendatang yang pembiayaannya melibatkan pihak eksternal, seperti pemerintah, perusahaan dan perorangan. Selain itu, konten atau materi UBS selanjutkan mempunyai kekhususan. Salah satunya melakukan rekonstruksi kesenian yang nyaris punah dan lebih terfokus pada seni keagamaan yang mengandung nilai spiritual dan religi. "Pada tahun ini, Tim Kesenian Fakultas Pendidikan Agama dan Seni yang mewakili Unhi berhasil merebut juara I falam kategori Karnaval Budaya kerjasama I News TV dan Kementerian Periwisata dan festival pesona lokal. Ini menunjukkan bahwa telah ada hasil karya nyata yang telah diberikan oleh penyelenggaraan UBS ini,"tukasnya. Ketua Yayasan Pendidikan Widya Kerti, Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A., mengapresiasi pelaksanaan UBS IX 2018 yang tekah berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan. Menurutnya berbagai potensi yang dihasilkan dari UBS nantinya agar bisa dilibatkan dalam PKB tahun depan. Sebab, UBS cukup memberi nuansa baru dalam pengembangan dalam meningkatkan skill seniman. Keterlibatan seniman hasil UBS diharapkan menjadi motivasi seniman lainnya serta mendukung program-program pemerintah dalam melestarikan seni dan budaya. "Dalam UBS kami tekankan persoalan spiritual dan religi, tidak hanya seni kontemporer. Unhi mempunyai peran penting sebagai motor penggerak pendidikan karakter. Konsep tersebut akan memberi nuansa baru dalam kancah seni dan kontemporer,"pungkas Prof. Ardhana.

Image
Selasa, 25 September 2018
Unhi Harap Dukungan Pemerintah untuk Keberlanjutan UBS

UTSAWA Bali Sani (UBS) yang diselenggarakan oleh Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar sejak tahun 2010 akan tetap dilanjutkan. Mengingat peran strategis UBS sebagai upaya pemajuan kebudayan Bali, maka diharapkan semakin banyak melibatkan pihak eksternal termasuk pemerintah untuk mendukung keberlanjutan kegiatan tahunan ini. Hal tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Utsawa Bali Sani Kini dan Nanti yang berlangsung di kampus Unhi Denpasar, Selasa (25/9). Rektor Unhi Denpasar, Prof. Dr. drh. I Made Damriyasa, M.S, didampingi Ketua Yayasan Widya Kerthi Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A, di sela-sela FGD mengatakan, diskusi ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan UBS yang telah berlangsung hingga sembilan kali. FGD menghadirkan beberapa narasumber dari pihak eksternal seperti pengamat seni, seniman, budayawan, dinas Kebudayaan, perwakilan Majelis Desa Pakraman, dan PHDI, serta PHRI. Selain itu, hadir pula para mantan rektor Unhi serta pejabat di lingkungan Unhi. Kami sengaja mengundang pihak eksternal agar mengetahui respons mereka terhadap kegiatan tahunan ini. Setelah FGD ini kami akan ada diskusi kembali di internal untuk mematangkan pelaksanaan Utsawa Bali Sani ke depannya, kata Prof. Damriyasa. Dalam FGD tersebut, pengamat seni Prof. Dr. I Wayan Dibia, SST, MA, menyampaikan bahwa UBS telah menjadi satu peristiwa budaya yang ditunggu-tunggu masyarakat pada sekitar Purnama Kapat. Dengan lahirnya UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, maka UBS penting untuk terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai ruang pelestarian budaya khususnya kesenian. Walaupun digagas oleh Unhi, tetapi UBS menjadi bagian dari dinamika kehidupan budaya masyarakat secara luas, ucapnya. Prof Dibia melanjutkan, UBS telah berkontribusi positif terhadap eksistensi berbagai kesenian di Bali. UBS perlu memperkokoh eksistensi dan jati dirinya sebagai festival yang berbeda dengan festival seni yang lain. Lomba bapang barong, jauk manik, pajegan yang ditampilkan mempunyai dampak cukup besar dalam membangun kegairahan berkesenian di kalangan generasi muda. Ke depan, kualitas kesenian yang disajikan harus terus dikurasi, diseleksi agar memiliki daya pukau, katanya. Mantan Rektor Unhi Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Gede Yudha Triguna, MS pada FGD tersebut memaparkan sejarah awal pelaksanaan UBS. Dikatakan, UBS digagas untuk memeriahkan rangkaian upacara Dewa Yadnya di Pura Maha Widya Mandira Kampus Unhi Denpasar untuk mengisi waktu nyejer Ida Bhatara. Pelaksanaan UBS didasari atas semangat ngayah. UBS memiliki fungsi simbolik yang baik, ekspresif, kognitif, evaluatif, dan konstruktif. Agar lebih efisien dari tata kelola internal, UBS dapat dicarikan orang tua asuh kepada pihak pemerintah, perusahaan, dan perorangan. Unhi kalau mau besar harus didukung oleh masyarakat dengan cara membangun kerja sama dengan seniman, budayawan, sastrawan, kata Prof. Yudha Triguna. Sementara itu, perwakilan PHDI dalam acara itu menyampaikan sangat mendukung pelaksanaan UBS yang dilaksanakan Unhi Denpasar. Diharapkan UBS terus-menerus mampu mengangkat kearifan lokal. Adapun perwakilan dari PHRI memberi masukan agar Unhi membangun kerja sama dengan stakeholder pariwisata khususnya PHRI dan Asita agar UBS juga bisa dikenal di dunia pariwisata. HM

Image
Sabtu, 22 September 2018
FIAK Unhi Yudisium Mahasiswa Prodi Ilmu Filsafat Hindu dan Hukum Agama Hindu

FAKULTAS Ilmu Agama dan Kebudayaan Universitas Hindu Indonesia (FIAK Unhi) denpasar menggelar Yudisium Mahasiswa Prodi Ilmu Filsafat Hindu dan Hukum Agama Hindu di Hotel Inna Bali Heritage Denpasar, Sabtu (22/9) lalu. Hadir saat itu yakni Dekan FIAK Unhi Denpasar, Drs. I Putu Sarjana,M.Si., Wakil Dekan Dr. I Wayan Martha, M. Si, para dekan di Lingkungan Unhi Denpsar, Kaprodi Ilmu Filsafat Hindu dan Hukum Agama Hindu, serta seluruh dosen FIAK Unhi Dempasar. Dalam acara Yudisium tersebut, lulusan terbaik diraih oleh Ni Made Rai Evi Purwanti, SH., dengan IPK 3,73. Dekan FIAK Unhi Denpasar, Putu Sarjana memgatakan bahwa upacara yudisium yang dilakukan merupakan kedua kali di tahun 2018 ini. Mahasiswa yang di Yudisium berasal dari Prodi Ilmu Filsafat Hindu dan Hukum Agama Hindu. Yudisium yang dilakukan bertepatan dengan hari raya Tumpek Wayang ini mempunyai makna tersendiri bagi para yudisiawan. "Yudisium kali ini sangat istimewa karena bertepatan dengan Tumpek Wayang. Itu artinya prestasi yang diraih para yudisiawan saat ini adalah kebanggaan ganda. Sebagaimana makna Tumpek Wayang adalah menerangi kegelapan, memberikan pencerahan dalam kehidupan di dunia,"papar Sarjana. Pada kesempatan tersebut, Putu Sarjana mengingatkan agar lulusannya mampu berdaya saing dalam menghadapi revolusi industri 4.0 atau era inovasi. Tamatan Unhi khususnya Fakultas Ilmu Agama dan Kebudayaan harus mampu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh untuk masyarakat. Sebab, masyarakatlah yang akan menilai kualitas lulusan sarjana saat ini. Di samping itu, Dekan Sarjana juga berpesan agar lulusan Unhi mampu menjadi sarjana yang humanis, profesional, dan memiliki pemahaman yang mau baik di bidang agama dan kebudayaan. "Masyarakat adalah tempat kita mendedikasikan ilmu yg diperoleh. Saudara harus mampu menjadi teladan serta menjadi sarjana yang humanis dan profesional di era milenial,"tandasnya. Putu Sarjana menyarankan dan berharap agar lulusan FIAK Unhi Denpasar kembali melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Apalagi Unhi memiliki program magister dan doktor yang berkualitas. "Jangan selesai sampai di sini, lanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Kita juga punya program magister dan doktor,"pesannya. HM